Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 387 - Pindah ke Indonesia



...***...


Beberapa saat yang lalu, ketika mereka mengunjungi The Tuileries Garden, mereka sempat menangis karena harus berpisah lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya.


Tapi sekarang keduanya tersenyum dan mulai bisa melupakan masalah itu secara perlahan-lahan.


Mereka berlarian, bermain kejar-kejaran sembari sesekali tertawa dan saling melemparkan senda gurau.


Brunella, wanita tua yang rambutnya senantiasa di gelung rapi ke belakang dengan penampilan modis ala wanita-wanita Prancis mengubah air mukanya ketika ia teringat akan apa yang sebentar lagi harus dihadapinya.


Hari ini adalah terakhir kalinya ia akan menghabiskan waktu bersama dengan cucu pertama kesayangannya, sekaligus hari terakhir ia menghabiskan waktu bersama putra pertama dan menantunya sebelum mereka pulang kembali ke London dan takkan berjumpa hingga Noël serta La Saint-Sylvestre dua tahun ke depan.


Matanya mendadak berkaca-kaca, dan dadanya terasa sesak karena tak rela mereka pergi. Apalagi mereka baru berkunjung ke Prancis beberapa bulan lalu. Sebisa mungkin wanita itu berusaha menahan tangisnya.


Charles yang menyadari istrinya itu, tengah bersedih lantas memeluknya. Brunella menenggerkan kepalanya pada dada bidangnya.


Bukan hanya Brunella yang merasakan kesedihan itu, Charles pun merasakan hal yang sama. Ia masih ingin berkumpul dengan Theodore, menantu, dan cucunya, tetapi ia mengerti jika kehidupan putra pertamanya itu sekarang sudah bukan hanya mengurusi kedua orang tuanya yang sudah semakin berumur.


Kehidupan Theodore sekarang sudah berubah, ia sudah berkeluarga dan sudah memiliki kesibukan sendiri di London yang tentunya tidak dapat ia tinggalkan terlalu lama.



"Ayo kejar aku!" Gadis kecil itu berteriak pada anak laki-laki seumurannya sambil terus berlari.


Anak lelaki dibelakangnya mempercepat langkah guna menangkap kakak sepupunya yang terus berlari.


Langkah gadis itu terhenti ketika ia secara tak sengaja mendengar pembicaraan antara papa dan oncle-nya.


Maxime menoleh pada pria yang jadi kakaknya.


"Dua hari lagi setelah kepergianmu. Aku masih harus membereskan pekerjaanku di kantor."


"Lalu apa rencanamu setelah pindah ke Indonesia bersama keluargamu?"


"Aku akan menetap di sana, membangun rumah, dan memulai bisnisku sendiri yang aku mulai dari nol," jelasnya pada Theodore. Lelaki yang jadi kakaknya itu, hanya mengangguk menanggapi kalimatnya.


Gadis itu terpaku di tempatnya dengan otaknya yang berusaha mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut oncle-nya.


...*...


Sikap aneh kakak sepupunya membuat anak laki-laki itu semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Berulang kali, ia berusaha menanyakan apa yang membuatnya berubah aneh seperti sekarang, tapi anak perempuan itu enggan berucap yang sejujurnya. Sampai akhirnya mereka tiba di Eiffel tower, ketika hendak menutup malam dengan menghabiskan waktu malam di sana.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya anak laki-laki itu pada gadis yang menjadi kakak sepupunya.


Gadis itu tampak ragu untuk bicara yang sejujurnya, sampai akhirnya ia mendesaknya untuk bicara, dan ia mulai mau bicara yang sejujurnya.


Gadis itu menjelaskan apa yang telah di dengarnya dari Maxime dan menjelaskan semuanya pada anak itu.


Anak laki-laki itu, berubah bimbang kala mendengar penjelasan dari kakak sepupunya tentang ucapan ayahnya yang mengatakan kalau ia akan pindah ke Indonesia dan menetap di sana.


Kesedihannya bertambah dua kali lipat.


...*** ...