
...***...
"Aku dan kak Rei adalah rival!"
"Tapi itu dulu, sebelum kau kecewa karena ternyata kak Rei memiliki otak yang lebih pintar dibandingkan dirimu dalam segala bidang mata pelajaran! Kau hanya cemburu karena usahamu menjadikan dirimu mencolok di mata kak Rei, justru gagal."
"Argh, diam! Sudahlah jangan membahas tentangnya lagi, kau membuatku kesal!" Wajah Luisa merah padam, gadis itu bergegas melarikan diri. Ia berjalan pergi menuju arah kafetaria.
Gloria mengejarnya cepat dan terus menggoda sahabatnya itu hingga membuat wajahnya semakin memerah dibuatnya.
...*...
Rei dan Heru berjalan di stand makanan yang ada di sana. Di tangan mereka, nampan berisi alat makan sudah mereka genggaman dengan erat. Mereka berdua mengantre di belakang beberapa anak lain yang juga hendak makan.
"Benar-benar menu kelas atas." Heru bergumam menatap layar LED yang kini menyala. Sederet huruf dilihatnya menuliskan berbagai macam menu yang kini tersedia untuk menemani waktu makan siang mereka.
Rei tak banyak bicara dan memilih untuk terus fokus pada makanannya. Setelah mereka berdua mendapatkan hidangan yang tersedia di sana, mereka segera mencari tempat yang kosong untuk mereka duduk.
Rei mendadak menghentikan langkah kakinya saat ia sadar ada salah seorang lelaki yang sengaja menjulurkan kakinya, berusaha menjegalnya berharap ia jatuh.
Rei terdiam, ia menoleh ke arah pemilik kaki itu. Seorang pria bertubuh tinggi dengan kulit hitam dan mata sipit.
"Rei, ada apa?" Heru di belakangnya menatap Rei dengan raut wajah bingung ketika teman sekelasnya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Rei tak menjawab dan fokus pada lelaki di meja itu. Lelaki itu menoleh ke arah Rei saat sadar kedua pasang mata Rei mengawasi dirinya.
"Ck, tidak kena. Ternyata dia sudah mulai lebih waspada," ujar lelaki itu yang mengundang gelak tawa dari beberapa teman yang duduk di mejanya.
Lelaki itu bangun dari tempat duduknya. Ia berdiri berhadapan dengan Rei, beradu tatap satu sama lain dengannya.
"Lihat ini, siapa yang telah kembali setelah setahun yang lalu dikabarkan melarikan diri." Lelaki itu mengeluarkan seringainya.
"Sepertinya dia lari karena kau terus saja bermain dengannya." Salah satu temannya menjawab.
"Kau bermain terlalu kasar dengannya, cobalah untuk bermain lebih halus lagi agar dia merasa lebih nyaman haha." Yang satu lagi berucap. Semua temannya yang lain itu kembali tidak tertawa. Mereka tahu betul kemana arah pembicaraannya.
Rei diam bergeming di tempatnya. Tangannya mencengkram erat pegangan pada nampan yang di genggamnya.
"Lama kita tidak bertemu Rei, kemana saja kau selama ini? Apakah kau tidak tahu kalau aku sangat merindukanmu?" Pria itu tersenyum ke arahnya.
Rei tak senang, ia dapat merasakan dengan jelas kalau pria itu sebenarnya tak menyukainya. Tapi entah apa alasannya, Rei tidak tahu.
"Minggir," gumam Rei setelah benar-benar merasa muak.
"Apa? Kau berbicara sesuatu? Teman-teman lihat, dia memintaku untuk menepi. Berani sekali dia, sepertinya dia butuh diberikan hukuman hahaha."
"Bagaimana kalau kau bor lubangnya, hahaha."
"Kau gila, hahaha."
Lagi. Mereka tertawa tanpa Rei mengerti apa yang lucu dari pembicaraan mereka.
Rei yang merasa tidak nyaman, bergegas mengambil langkah hingga menabraknya.
...***...