Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 226 - Bangunan sekolah lain



...***...


"Aku hanya ingin tahu siapa dirimu sebenarnya dan alasan kenapa kau memiliki kemampuan yang begitu luar biasa."


"Lalu kenapa kau membawa Lusia juga?! Lepaskan aku! Lepaskan dia juga!" teriaknya keras, ia terus meronta tapi gagal membuatnya bebas.


"Semua usahamu percuma saja! Kau tidak akan bisa membebaskan dirimu." Ia menyeringai.


Aku harus menolong Lusia. Tapi bagaimana caranya aku bisa membebaskan diriku dari cengkramannya? batin Rei. Ia menatap tajam pria berpakaian serba hitam dihadapannya itu.  Rei memejamkan matanya saat akhirnya ia menemukan ide untuk membebaskan diri.


Louis, panggilnya dalam hati.



Pria yang dipanggilnya seketika muncul dihadapan Rei. Begitu melihat Rei tengah dalam kesulitan, lelaki itu tak tinggal diam.


Louis segera menggunakan kemampuannya, mendorong sosok yang sejak tadi mencengkram tubuh Rei hingga makhluk itu terhempas hanya dengan menggunakan gerakan matanya.


Rei bangun tertatih sementara pria itu terlihat kaget saat melihat Louis yang tiba-tiba muncul tanpa peringatan dan menyerang salah satu makhluknya.


"Kau baik-baik saja, tuan?" Louis menghampiri Rei dan menatapnya cemas.


"Aku baik-baik saja. Tapi Lusia berhasil mereka tangkap, aku harus menolongnya."


"Aku akan menghadapi mereka, tuan bantulah bebaskan dia."


"Kau yakin bisa menghadapi mereka semua?"


"Tuan tidak perlu cemas."


"Terima kasih, kalau begitu aku mengandalkanmu." Rei berlari menuju arah pintu yang terdapat di sana dan membiarkan Louis menghadapi mereka.


"Siapa kau tiba-tiba muncul dan ikut campur dengan urusanku sampai-sampai kau melukai salah satu anak buahku?!" Pria itu menatap Louis yang kini berdiri tak jauh dari tempat Rei berdiri.


"Tuan?"


"Evolver pengendalian makhluk." Louis menarik sebelah sudut bibirnya begitu sadar dengan siapa ia berhadapan.


...*...


Rei terus berlari hingga akhirnya tiba di pintu kayu yang ia lihat. Tiba di sana, ia berusaha keras untuk mendobrak pintu itu agar bisa terbuka.


"Aku tidak bisa membukanya sama sekali," gumam Rei pelan.


"Sekarang, bagaimana aku bisa menolong Lusia?" Rei memikirkan cara agar ia bisa membuka pintu dihadapannya dan menolong Lusia yang berada di dalam sana.


Ia bergerak sedikit menjauh dari arah pintu. Rei mengerjapkan matanya hingga membuat pupil matanya berubah biru.


Rei membakar pintu itu dengan kemampuannya, dan berhasil. Ia berhasil membuka pintu itu.


Ia bergegas melangkah masuk ke dalam pintu tersebut, tapi begitu tiba di sana. Ia sama sekali tak dapat menemukan keberadaan Lusia dimana pun.


"Lusia?!" Rei berteriak memanggil Lusia yang entah dimana. Ia mengedarkan pandangannya.


Hal yang dilihatnya sekarang adalah sebuah lapangan yang begitu luas. Di sisi kanannya, ia melihat sederet ruangan yang berjajar dengan koridor yang tampak usang.


Tempat itu sangat tua, terbengkalai, dan penuh dengan debu dimana-mana saking tak tersentuhnya.


"Ini… kenapa ada bangunan seperti ini di sekolah?" Rei memonolog.


Apakah ini sekolah? Tapi, bukankah itu juga sekolah? Lalu kenapa ada dua bangunan sekolah, dan kenapa harus ada dinding dan pintu di tengah-tengah tempat ini? Rei membatin. Ia melangkah secara perlahan mencari keberadaan Lusia yang tak dapat di lihatnya.


Begitu Rei melangkah beberapa langkah, mendadak pintu itu kembali seperti semula dan berdiri hingga menutupi rapat tempat tersebut. Rei tersentak.


...***...