Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 167 - Rei anak mereka?



...***...


"Kau tidak suka dia tinggal di sini?" tanya William dengan raut wajah bingung.


"Dia itu menyebalkan, aku tidak suka dengannya. Apalagi kalau dia tinggal di sini, bisa-bisa aku kena stroke gara-gara dia."


"Hati-hati, biasanya jika terlalu membencinya nanti kau akan jatuh cinta padanya." William menggoda kakaknya.


"Apa? Jaga bicaramu! Tidak mungkin aku akan suka dengan pria menyebalkan seperti dia!"


"Hahaha, jangan menyangkal seperti itu. Nanti bisa saja terwujud… aww." William meringis saat kakaknya menghadiahinya dengan cubitan keras.


"Lebih baik kau diam sebelum aku menyumpal mulutmu!"


"Shhh… lagipula apa salahnya kalau kau suka dengan kak Leon, dia baik, tampan, dia juga berasal dari keluarga berada, bahkan dia memiliki darah keturunan Eropa. Dia itu sempurna, tapi kenapa kau tidak ingin dengannya?" William mengusap lengannya yang terasa sakit.


"Dia bukan tipeku! Lagipula dia sangat menyebalkan dan terus saja melakukan hal semaunya. Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Lebih baik sekarang kita masuk," tukas Elvina yang kemudian menggiring William dan Rei untuk masuk.



...*...


Rei memarkirkan motornya di depan rumah setelah ia memutuskan untuk pulang pukul lima sore. Ia melepaskan helm yang terpasang di kepalanya dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Entah kenapa, tapi sejak tadi dirinya merasa kalau akan ada hal besar yang terjadi di rumahnya. Tapi Rei sama sekali tak dapat melihatnya di dalam penerawangannya. Rei hanya berfirasat saja.


Ia melangkah masuk dan menutup pintunya perlahan. Tiba di dalam rumah, ia tidak dapat menemukan siapapun di dalam sana. Entah kenapa perginya semua orang, yang pasti rumahnya begitu tenang seperti tak ada penghuninya.


Rei berusaha tak mengindahkannya suasana itu, ia memutuskan untuk naik ke kamarnya guna mengganti baju dan beristirahat setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan.


Pria yang menjadi kakak keduanya itu berdiri dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Ia menghampiri Rei yang terdiam di tempatnya.


"Berhenti berpura-pura dan sekarang lebih baik kau mengaku!" tuturnya.


Rei mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh kakaknya itu.


"Kau tidak usah terus bersandiwara di depanku, aku sudah tahu semuanya." Samuel mengangkat kertas di tangannya.


"Mengetahui tentang apa?" Rei masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.


Samuel melemparkan kertas di tangannya ke hadapan Rei dengan cukup keras hingga membuat lembaran kertas itu berjatuhan di lantai.


Rei menunduk melihat tulisan yang terdapat di kertas itu. "Kau adalah Rei yang asli, tapi kenapa kau berpura-pura kalau kau amnesia padahal sudah jelas-jelas kau baik-baik saja. Apakah kau berusaha menghindar dari masalah yang tahun lalu kau buat?" Samuel memperjelas situasinya.


"Apa?" Rei tersentak dengan kebenaran yang didapatnya.


Aku artinya, hasil dari tes DNA waktu itu membuktikan kalau aku benar-benar Rei anak mereka? Rei tak bisa berkata-kata mendengarnya.


"Lebih baik sekarang kau mengaku kalau kau hanya berpura-pura amnesia!" Samuel menatapnya tajam.


"Aku sungguh tidak terkejut dengan apa yang baru saja kau katakan, tapi sungguh, aku tidak berpura-pura. Aku memang tidak ingat apa-apa."


"Kau masih bersikukuh tidak ingin mengaku padaku?" tuturnya.


...***...