
...***...
"Itu betul. Aku memang menyembuhkannya saat aku lihat kondisinya kurang baik, tadi. Dia terkena racun dari pelurunya sendiri dan akan berbahaya kalau aku tidak cepat bergerak. Karena tuan memberikan aku kemampuan untuk menyembuhkan, maka aku bisa menyembuhkannya."
"Kalau begitu, bisakah kau membantu menyembuhkan satu orang lagi?"
"Siapa?"
"Di sini orangnya." Rei membawa Louis bertemu dengan Derek yang masih terbaring.
"Ini dia."
"Siapa dia tuan?"
"Namanya Derek, dia adalah adik dari Joe."
Louis sempat terkejut mendengar ucapan Rei. Tapi kemudian Rei menjelaskan semua yang terjadi pada Louis selama lelaki itu tidak ada di antara mereka.
Louis mendengar dengan tenang sampai dia akhirnya mengerti. Setelah penjelasan dari Rei, akhirnya Louis mau membantu menyembuhkan Derek.
"Dia sudah membaik. Sebentar lagi, dia juga pasti akan sadar," ucapnya setelah selesai menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan Derek.
"Sungguh?"
"Iya. Jadi, tuan tidak perlu cemas lagi."
"Syukurlah. Terima kasih."
"Tidak masalah."
"Oh iya, ada hal lain yang harus kau lakukan."
"Apa itu?"
...*...
Hari berlalu. Sore pun tiba, dan semua orang berkumpul bersama di tengah desa sambil menghangatkan diri di depan api unggun. Semuanya berkumpul, terkecuali Rei yang kini sedang menyendiri di tepi pantai.
Setelah berusaha mencari Louis berulang kali, akhirnya dia bertemu dengan lelaki itu.
Rei meminta Louis untuk membantu menyembuhkan Derek, dan lelaki itu segera menggunakan kekuatan yang sempat dia gunakan juga pada Lucy untuk menyembuhkan Derek.
"Tuan!" Louis menghampirinya di sana.
"Aku sudah memikirkan permintaan tuan, dan aku pikir memang sudah saatnya tuan tahu semuanya."
"Jadi kau bersedia menjelaskan semuanya padaku?"
"Iya." Louis menganggukkan kepalanya.
Setelah menimbang-nimbang mengenai permintaan Rei yang memintanya menjelaskan mengenai apa yang terjadi. Tentang rasa sakit dan setiap kepingan ingatannya, akhirnya Louis setuju untuk menjelaskan semuanya.
"Bagus, kalau begitu jelaskanlah."
"Tidak. Sebelum itu, ada sesuatu yang harus aku tunjukkan pada tuan."
"Apa?"
"Ikutlah denganku." Louis mengulurkan tangannya. Rei tanpa ragu menggenggam tangannya, dan dengan kekuatan teleportasinya, Louis membawa Rei pergi ke suatu tempat.
...*...
Rei membuka kedua matanya secara perlahan. Dan begitu kedua irisnya terbuka, hal pertama yang dilihat Rei adalah sebuah pohon besar.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan Rei baru sadar dirinya tengah berada di hutan bersama dengan Louis di sampingnya.
"Kita ada di mana?"
"Di tempat semuanya berawal," gumam Louis dengan kepala tertunduk.
"Apa?" Rei menatap Louis tak mengerti.
"Apakah tuan tidak mengingat sesuatu mengenai tempat ini? Apakah tuan tidak ingat mengenai keadaan familiar ini?"
Rei mengerutkan kening. Ia berusaha mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut Louis barusan.
Rai kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tapi tak lama kemudian kepalanya mulai beraksi kembali saat ia secara tidak sengaja melihat tanaman rambat yang ada di bawah pohon. Tanaman yang membuat Louis diam selama berjam-jam sambil memandanginya.
"Arghhh!!!" Rei meringis sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Bersamaan dengan itu, berbagai kepingan ingatannya mulai kembali bermunculan di kepalanya.
"Tampaknya tuan mulai ingat," gumam Louis yang hanya diam dan menatap Rei yang terus meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Arghhh!!" Rei kembali menjambak rambutnya saat rasa sakitnya begitu menyiksa kepalanya. Lelaki itu bahkan sampai jatuh terduduk di tanah.
Rei merasakan sesak.
...***...