
...***...
"Apakah ada bisa aku dan Rivanno bantu? Kalau ada katakanlah, jangan kau menghadapi semua ini sendirian," gumam Tiana dengan suara lembut. Dia tidak kuat kalau harus menyaksikan sahabatnya menghadapi semuanya sendirian.
"Apa yang dikatakan Tiana benar. Kalau kau membutuhkan bantuan, kami akan membantumu."
"Tiana..." Dorothy menatap wanita itu dan memeluknya erat. Tiana memang sahabat yang selalu bisa dia andalkan.
Setelah merasa tenang, Tiana dan Rivanno mengajak wanita itu untuk keluar agar bisa berpikir lebih jernih. Tiana membawanya ke dapur, dan dengan segera dia membawakan Dorothy minum untuk menenangkannya. Walaupun dia sempat kebingungan saat mencari gelas karena dia baru pertama kali berkunjung ke rumah sahabatnya itu.
"Jadi, apa yang bisa kami bantu?"
"Apakah kau tahu kemungkinan suamimu membawanya pergi?" tanya Rivanno. Dorothy menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku tahu. Hanya ada satu kemungkinan kemana dia membawa anak-anakku. Tapi, itu akan cukup berbahaya. Karena dia tidak mungkin sendirian."
"Apa maksudmu?"
"Seperti yang sudah pernah aku jelaskan padamu, Tiana. Suamiku bekerja sama dengan Miles dan Martin. Dia terlibat dalam penculikan itu, dan aku yakin… Cato pasti membawanya ke markas mereka."
"Apa?" Rivanno tersentak mendengar kalimatnya. Lelaki itu sungguh tidak menyangka ternyata suami dari teman rekan kerjanya ada di balik semua ini. "Jadi…"
"Akan aku jelaskan nanti!" potong Tiana cepat. Yang terpenting baginya saat ini adalah membantu sahabatnya, bukan menjelaskan apa yang terjadi pada Rivanno yang tidak tahu apa-apa. "Dimana markas mereka? Kami akan membantumu membawanya."
"Jangan tanyakan itu. Kami pasti akan membantumu, lagipula aku tidak mungkin membiarkan sahabatku menghadapi masalahnya sendirian. Aku pasti akan membantumu!" Tiana menggenggam tangan Dorothy. Berusaha meyakinkan wanita itu bahwa dia ada di pihaknya.
"Terima kasih, Tiana, Rivanno. Kalian sangat baik karena mau membantuku."
"Tidak perlu berterima kasih. Lebih baik kita pergi sekarang!" Tiana beranjak dari tempatnya, diikuti oleh Rivanno.
"Tunggu, sebelum pergi, ada yang harus aku berikan padamu." Dorothy pergi menuju kamarnya. Membawa semua barang bukti yang telah dia kumpulan. Setelah itu dia memberikan semua barang bukti itu pada Tiana.
"Ini…" Tiana terdiam tak percaya. Wanita itu sungguh mendapatkan semua barang bukti yang dibutuhkannya.
"Itu adalah barang bukti yang kau minta. Simpan itu baik-baik agar kau bisa membantumu lepas dari suamiku."
"Aku pasti akan menyimpannya baik-baik." Tiana memasukkan benda itu ke dalam tas yang dibawanya. Setelah semuanya siap, mereka langsung berangkat dengan menggunakan mobil Tiana dengan Rivanno yang menyetir.
Dengan kecepatan penuh, mereka berangkat menuju tempat yang dimaksud oleh Dorothy. Pergi ke laboratorium dimana mesin waktu yang akan menjadi alat transportasi mereka itu berada. Begitu tiba di sana, Dorothy dan yang lainnya bergegas keluar dan melangkah masuk lewat pintu depan. Seperti keadaan sebelum-sebelumnya, laboratorium itu kosong. Tidak ada siapapun di sana selain ruangan yang tampak berantakan karena ditinggalkan.
"Kau yakin mereka di sini?" tanya Tiana yang terus berjalan mengikuti Dorothy dengan Rivanno di samping mereka.
"Mereka tidak di sini, tapi di tempat lain. Kita kemari hanya untuk menggunakan alat mereka untuk bisa sampai di sana."
"Alat?" Rivanno mengerutkan kening. Mereka terus menyusuri koridor.
...***...