Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 410 - Apel



...***...


"Karena saat kita bertemu dengan lelaki itu, kau bersikap aneh," kata Rei.


"Sudah aku katakan, tuan. Kalau aku melakukan itu hanya karena aku tidak ingin tuan berhadapan dengan profesor. Itu terlalu berbahaya. Dan mengenai pria yang bersama profesor waktu itu, aku tidak tahu. Karena aku belum pernah bertemu dengannya."


"Kau tidak tahu tentangnya?" Rei mengerutkan kening.


Louis hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Bahkan bisa dibilang, saat itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan pria itu."


"Kalau kau tidak tahu… apakah mungkin Elvina atau William tahu tentangnya?"


"Mengapa tidak coba tuan tanyakan?"


"Sepertinya memang harus aku tanyakan. Besok siang, sepulang sekolah, aku akan langsung mengajak Elvina dan William bertemu untuk membahas hal ini."


"Itu ide yang bagus, tuan. Dan akan lebih baik kalau tuan tidur malam ini, agar besok tuan bisa fit ketika bertemu dengan mereka."


"Kau benar. Lebih baik aku tidur sekarang." Rei membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang.


"Selamat malam, tuan."


"Selamat malam juga untukmu, Louis." Rei memejamkan mata.



...*...


"So? Apa rencana kita hari ini?" tanya Aland sembari menaruh secangkir kopi dalam genggamannya ke atas meja. Fokus matanya beralih menatap Lucy yang kini sibuk mengubek-ubek isi kulkas mencari buah-buahan sebagai hidangan penutupnya.


"Eth bilang kalau dia tidak bisa menemukan sedikitpun lokasi keberadaannya lewat scanning foto yang ada pada biodatanya, dan dia bilang itu artinya, target kita tidak berada di Indonesia. Tapi Ethan bilang kalau masih ada kemungkinan kalau mereka menggunakan alat penyadap yang membuat sinyal dari markas tidak bisa mendeteksi keberadaan target kita lewat scanning wajah yang telah di lakukan. Kau ingat 'kan kalau Ethan pernah bilang, alat-alat yang mereka gunakan terlampau canggih. Bahkan melebihi kecanggihan alat-alat agen seperti kita."


"Ya, lalu? Apa kita akan kembali ke sekolah dan mencari petunjuk dari sana? Bukankah kita sudah mencobanya kemarin?"


"Tidak!"


"Lantas?"


Lucy menghampiri Aland dan duduk di kursi kosong yang ada di hadapannya.


"Dengar! Logikanya seperti ini, kalau orang-orang di sekolah kemarin tidak kenal dengan orang yang kita maksud, itu artinya ada kemungkinan kalau mereka adalah orang-orang baru. Jadi kita bisa mencari petunjuk lain dengan cara mencari orang-orang yang pernah bersekolah di sana."


"Oh aku mengerti! Maksudmu, kita akan mencari orang-orang lulusan terdahulu dari sekolah itu?"


"Yup! Itu maksudku."


"Ida yang bagus, tapi pertanyaannya, bagaimana kita bisa menemukan orang yang di maksud? Kita saja bahkan baru saja tiba, dan kita tidak tahu orang-orang lulusan terdahulu dari sekolah itu."


Lucy terdiam membenarkan ucapan Aland. Ia sibuk mengunyah apelnya dan otak yang terus berputar mencari ide untuk memecahkan masalah mereka.


"Leon!" Lucy menjentikkan jari ketika ia teringat akan sepupunya. "Dia pasti bisa membantu kita. Aku akan coba tanyakan padanya, dimana dia menempuh pendidikan SMA nya."


"Kalau dia tidak bersekolah di sana, bagaimana?"


"Dia masih akan bisa membantu kita. Kau lupa? Oncle Maxime adalah pemilik salah satu perusahaan ternama di Indonesia ini, dan itu artinya ada banyak sekali pegawainya. Pasti ada beberapa orang yang dulu adalah lulusan dari sekolah itu 'kan?" Lucy tersenyum simpul.


(Oncle/ paman dalam bahasa Prancis)


...***...