
...***...
Elvina menatap ke arah pintu masuk. Di sana, Linda, sahabatnya berdiri di ambang pintu.
"Linda." Elvina kembali bangun dengan posisi tegap. Senyuman terbit di wajahnya saat mendapati sahabatnya datang berkunjung.
Linda adalah wanita bertubuh ramping nan tinggi, kalau di bandingkan dengan Elvina, tubuhnya lebih tinggi. Ia memiliki bentuk wajah oval, rambut panjang hitam pekat yang senantiasa tergerai.
Pertemuan pertama mereka terjadi ketika hari pertama melamar pekerjaan. Beruntung bagi Elvina bisa di terima sebagai kepala keuangan. Namun, tidak bagi Linda yang bahkan hanya berstatus sebagai karyawan biasa.
Wanita itu melangkah menghampiri Elvina dan berdiri tak jauh dari mejanya. "Kau baru saja tiba?" Linda balas tersenyum padanya.
"Ya. Omong-omong ada apa? Apakah kau membutuhkan sesuatu?"
"Bukan apa-apa, aku kemari hanya ingin memberitahu kalau kau di minta untuk mengirimkan laporan kemarin pada pak wakil direktur secara langsung," tutur Linda.
Oh, dan satu lagi yang menjadi kutukan bagi Elvina. Yaitu harus berhadapan dengan wakil direktur utama yang menyebalkannya luar biasa. Entah peraturan konyol darimana yang dia buat sampai-sampai mewajibkan Elvina untuk mengirimkan secara langsung hasil kerjanya pada dia.
Selain suka membuat aturan sendiri, wakil direktur yang bekerja di kantornya memiliki sifat menyebalkan. Sering kali Elvina diperlakukan layaknya babu yang tidak memiliki pekerjaan selain menuruti keinginannya.
Elvina selalu jengkel dengan sikapnya, beruang kali Elvina berusaha untuk sabar walaupun sikapnya benar-benar selalu keterlaluan. Kalau saja yang ditunjuk sebagai wakil direktur utama di perusahaannya bukankah anak dari CEO-nya sendiri, Elvina pasti sudah membalas semua perlakuannya.
Tapi Elvina tidak bisa melakukan itu. CEO di kantornya terlalu baik padanya. Sudah banyak sekali yang telah diberikannya untuk Elvina. Mulai dari jabatan yang tinggi, gaji yang lebih dari cukup, dan fasilitas berupa rumah yang kini ia tempati. Elvina menjadi salah satu anak emas di kantornya karena kejeniusannya.
"Tunggu, apa? Pak wakil direktur sudah sampai? Sejak kapan?"
"Sejak, tadi. Entah kenapa beliau datang pagi-pagi sekali hari ini, selain itu beliau tampak ceria."
"Aku juga tidak tahu. Sebaiknya kau berhati-hati." Linda mengingatkan.
"Iya, terima kasih."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Ok, sampai jumpa saat makan siang nanti."
"Iya." Linda melenggang pergi meninggalkan ruang kerja sahabatnya untuk melanjutkan pekerjaan.
Sepeninggalan Linda, Elvina terdiam berusaha mengatur emosinya dan menjaganya tetap stabil sebelum berhadapan dengan pak wakil direktur yang tingkat menyebalkannya itu di atas rata-rata.
...*...
Leon Delacroix, duduk di kursi kebesarannya yang tepat menghadap ke arah dinding kaca besar yang mengarah langsung ke pemandangan kota Jakarta yang nampak sibuk.
Pria tampan dengan kulit putih, mata cokelat, dan rambut agak kecokelatan itu, merupakan keturunan Indonesia-Prancis. Merupakan anak tunggal sekaligus pewaris perusahaan satu-satunya.
Ayahnya—Maxime Laurent adalah pria asal Prancis asli, yang jatuh hati pada Zabrina Pamela, wanita cantik asal Indonesia yang merupakan ibunya.
Tidak banyak orang yang tahu kalau Leon dan keluarganya pernah tinggal di Paris, Prancis. Ketika usianya masih sangat kecil. Namun, setelah itu. Maxime memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan mendirikan perusahaan di sana yang sampai sekarang telah menjadi salah satu perusahaan ternama di Indonesia.
...***...