Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 438 - Ekspektasi



...***...


Melinda terus melangkah mencari Rei yang sejak tadi berusaha ia ikuti. Namun sialnya, ia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan lelaki yang menjadi targetnya itu.


"Aku kehilangan jejaknya. Apakah jangan-jangan dia tidak ikut bersama Lusia dan teman-temannya? Kalau dia tidak bersama dengan Lusia dan yang lainnya, lalu kemana dia pergi?" Melinda bergumam pelan. Ia terus mengedarkan pandangannya begitu tiba di kantin. Berusaha mencari Rei, tapi sama sekali tak dapat ia temukan.


Fokus perhatiannya mendadak tersita saat secara tak sengaja, ia melihat Andrich bersama dengan Angelina yang berada di meja kosong tak terlalu jauh dari yang di duduki oleh Lusia dan teman-temannya.


Melinda terdiam memperhatikan pria itu.


"Apa yang mereka lakukan?" lirihnya pelan. Merasa tidak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas dari posisinya, Melinda segera mencari cara agar bisa mendekat tanpa mereka sadari.


Ia celingukan ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang tengah menatapnya. Begitu merasa aman, ia segera menggunakan kekuatannya untuk menghilangkan diri dan melangkah menuju arah Andrich dan Angelina.



"Ini buruk. Sepertinya lebih baik kau mengganti pakaianmu," kata Andrich setelah beberapa saat mencoba mengelap pakaian gadis itu, tapi tak kunjung kering.


"Apa? Aku tidak membawa baju cadangan."


"Aku punya. Kau bisa menggunakan punyaku," katanya.


"Tapi…"


"Ayo." Andrich menarik tangan gadis itu, sebelum ia sempat menjawab.


Andrich membawa Angelina ke ruang loker yang cukup sepi. Tidak ada banyak orang di sana, terutama di loker miliknya.


Andrich mengambilkan seragam cadangannya dan memberikan benda itu pada Angelina.


"Kau bisa mengenakan ini," ujarnya.


"Terima kasih." Angelina tersenyum simpul seraya menggenggam seragam yang ia berikan.


Andrich mendadak mendekat, mengikis jarak antara mereka.


Angelina terdiam, wajahnya berubah kaget begitu melihat tatapan Andrich yang berubah dari sebelumnya.


Gadis itu mendadak mundur hingga tubuhnya menabrak loker dibelakangnya. Andrich diam tepat dihadapannya dengan tatapan intens.


"Apakah kau tahu seberapa cantiknya dirimu?" Suara pria itu mendadak berubah. Nada bicaranya sedikit dingin, dengan suara berat yang berhasil membuat jantung Angelina berdebar-debar.


Andrich mengulurkan tangan, mengusap wajahnya lembut dengan netra yang terus memandangnya intens.


Angelina menelan saliva-nya susah payah. Wajah Andrich terlihat lebih tampan ketika berada dalam posisi sedekat ini.


Andrich mencengkram tengkuknya, mendekatkan wajah ke arahnya semakin memicu jantung gadis itu berdebar hebat. Dalam pikirannya hanya satu. Andrich tertarik dengannya dan ingin menciumnya. Angelina hanya diam membatu bak patung.


Wajah pria itu semakin mendekat ke arahnya. Ia spontan memejamkan kedua mata.


Baru saja ia berekspektasi bibirnya menyentuh permukaan bibir Andrich, tapi mendadak suara yang didengarnya mengejutkan dirinya hingga membuat dia refleks membuka mata.


Brukk!


Detik berikutnya yang ia lihat adalah Andrich yang terkapar di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Astaga, Andrich!" Angelina terkejut. Ia berjongkok segera dan berusaha mengguncang tubuhnya. Berusaha menyadarkan pria itu yang mendadak jatuh pingsan tanpa alasan.


"Andri, bagun! Kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba pingsan seperti ini?" Angelina bergumam panik. Tapi tak ada sedikitpun respon dari tubuh pria itu.


Angelina makin panik. Ia yang cemas bergegas mencari cara guna membangunkannya.


"Aku harus meminta bantuan," gumamnya. Ia beranjak.


...***...