Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 364 - Sosok yang kucari



...***...


William menjelaskan segala yang terjadi pada Leon sedetail mungkin hingga membuat Leon benar-benar mengerti akan inti masalahnya.


Leon sejak tadi hanya diam dan mendengarkan semuanya dengan seksama. Sesekali ia mengangguk-angguk menanggapi kalimatnya.


"Begitulah. Itu alasannya mereka berusaha melukaiku," jelas William mengakhiri kalimatnya.


"Sepertinya kau sedang jatuh cinta." Leon berkomentar.


"Huh?"


"Maksudku, kau begitu peduli dengan gadis itu. Apakah kau menyukainya?"


"Menyukainya? Entahlah, aku hanya peduli padanya dan tidak ingin dia terluka."


"Ya. Itu artinya kau suka padanya. Kau tidak ingin dia terluka, dan cemas saat dia dilukai oleh lelaki lain. Kau ingin terus melindunginya setiap kali melihat dia berada dalam masalah 'kan?"


"Mungkin…" William menanggapinya dengan ragu.


"Semuanya benar-benar jelas, kalau kau menyukainya. Lalu kenapa kau tidak coba untuk mengajaknya berkenalan?"


"Berkenalan? Tidak mungkin. Apalagi dengan sikap Anton yang seperti itu."


"Jangan pikirkan tentang Anton. Biar aku yang urus dia. Akan aku pastikan lelaki itu tak bisa mengganggumu lagi, dan siapa nama gadis itu tadi?"


"Claretta."


"Ya, dia. Akan aku pastikan dia bebas dari keluarga Harrison, agar Anton tidak terus mengganggunya."


"Terima kasih sebelumnya karena kak Leon sudah mau membantuku. Tapi, kenapa kak Leon ingin melakukan semua ini? Maksudku, bahkan ini tidak ada hubungannya dengan kak Leon."


William terdiam mendengar kalimatnya. Leon sepertinya benar-benar serius ingin menjadikannya adik.


"Apakah kak Leon seserius itu dengan kak El?" tanya William dengan suara pelan. Kepalanya tertunduk, entah kenapa pikirannya mendadak teringat akan kejadian beberapa waktu lalu saat Elvina akhirnya resmi jadian dengannya.



"Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah kau pikir aku hanya mempermainkan kakakmu? Aku bukan orang yang seperti itu."


"Tidak, aku pikir kalian hanya berpikir untuk sebatas pacaran."


"Aku sungguh serius dengan Elvina. Aku sungguh mencintainya dan berharap hubungan kita bisa maju ke jenjang yang lebih serius, yaitu menikah. Agar aku bisa memiliki adik sepertimu, yang bisa aku ajak bicara dan menghabiskan banyak keseruan seperti bermain game bersama, atau melakukan permainan lainnya."


"Tapi… apa yang membuat kak Leon begitu mencintai kakakku? Padahal kalau di pikir-pikir, kakakku hanya perempuan biasa saja yang bahkan levelnya tidak setara dengan keluargamu."


"Jangan bicara seperti itu. Aku mencintai kakakmu, karena dia pintar, cantik, baik hati, memiliki senyumannya yang menawan, dan… penyabar." Leon terkekeh pelan saat menyebut kata terakhirnya.


'Penyabar.' memang kalimat itu cocok dengan Elvina. Saking sabarnya, wanita itu bahkan rela melakukan segalanya yang dimintanya walau hal yang dimintanya tak masuk akal.


Leon jadi teringat momen-momen saat dirinya dan Elvina belum resmi jadian. Leon sering sekali mengerjai Elvina hanya agar wanita itu tetap di dekatnya sepanjang waktu dengan mengikuti setiap perintahnya.


Leon jadi merasa sedikit bersalah karena usahanya mendekati Elvina dulu. Ia tahu kalau Elvina pasti sangat kesal saat ia terus mengerjainya seperti itu, tapi tak memiliki cara lain selain mengikuti setiap ucapannya.


"Dia adalah sosok perempuan yang selama ini aku cari." Leon semakin merekahkan senyumannya.


William terdiam.


...***...