
...***...
"Aku tidak menyangka makannya seenak ini!" Pricilla menjilati sisa saus yang ada pada piringnya. Ia baru saja melahap habis semua makanan yang dibuatkan Buzz untuk mereka.
"Dasar urakan," komentar Derek sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia meraih gelas minumnya lalu meneguknya pelan.
Buzz hanya bisa tersenyum simpul menanggapi sikap tamunya yang satu itu.
"Oh, dan sebagai makanan penutup, aku sudah membuatkan kalian krumkake." Buzz bangun dan mengambil makanan yang disebutnya.
Pricilla menaruh piringnya ke atas meja. Bibirnya penuh dengan saus yang baru saja di santapnya. Derek menggeleng pelan, ia meraih tisu lalu mengelap bibir Pricilla.
"Tidak bisakah kau makan lebih elegan?" Derek mengusap bibir Pricilla pelan. Wanita itu seketika mematung dalam posisinya, kedua manik matanya menatap Derek yang kini fokus membersihkan bibirnya yang di penuhi saus.
Kenapa dia mendadak perhatian seperti ini? Kalau di perhatikan… ternyata Derek juga tidak kalah tampan dengan Buzz, batin Pricilla yang entah kenapa mendadak malah memperhatikan penampilan Derek.
Tukk!
Buzz menaruh tiga piring berisi krumkake yang telah di buatnya ke atas meja.
Krumkake sendiri adalah sejenis kue. Dalam bahasa Norsk, krumkake berarti kue melengkung atau di kenal juga sebagai wafelnya Norwegia.
Sama halnya seperti wafel, krumkake juga berbahan dasar tepung, telur, mentega, krim, dan gula.
Krumkake biasanya dijadikan sebagai hidangan penutup yang disajikan setelah makan malam di hari spesial.
Krumkake bisa di makan secara langsung atau diisi dengan cokelat, selai, atau isian lainnya.
"Wah, seperti wafel. Sepertinya enak." Pricilla meraih piring krumkake miliknya lalu mulai melahapnya.
Pun Derek, yang kini juga mulai menikmati krumkake miliknya.
"Kau benar-benar hebat dalam memasak, semua hidangan yang kau buat benar-benar enak." Puji Pricilla sambil tersenyum.
"Aku seorang chef."
"Oh… begitu rupanya. Pantas saja setiap makanan yang kau buat begitu lezat."
...*...
"Pricilla?" Derek memanggil wanita yang termangu di ruang dapur itu. Ia benar-benar terkejut saat mendapati wanita itu duduk di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Sudah tengah malam lebih, dan Pricilla malah duduk di sana dengan begitu santainya. Beda halnya dengan Derek yang terbangun secara tiba-tiba karena ingin buang air kecil.
"Kenapa kau di sini?" tanya Derek menghampiri wanita itu.
"Aku tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang telah aku lakukan," gumamnya dengan kepala tertunduk.
"Maksudmu?"
"Melepaskan semuanya. Aku masih belum rela," ujarnya pelan.
Derek menghela napas. Ia merasa bersalah karena sudah menyeret-nyeret Pricilla dalam masalahnya.
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah menyeretmu dalam masalahku, aku tidak pernah membayangkan kalau hal ini akan terjadi sebelumnya."
"Kau tidak perlu merasa bersalah, karena mungkin saja apa yang terjadi semua ini sebenarnya telah ditakdirkan oleh tuhan. Kita dipertemukan dalam kondisi yang tidak tepat, lalu harus beradaptasi satu sama lain agar bisa melarikan diri bersama dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah masing-masing. Aku yakin, tuhan pasti memiliki alasan atas pertemuan kita."
"Aku harap begitu."
"Omong-omong, apakah kau yakin kalau Buzz bukanlah orang berbahaya? Bagaimana kalau dia adalah seorang evolver sama sepertimu?"
"Dia manusia biasa. Jadi kau tenang saja, aku sudah memastikannya."
"Kau sudah memastikannya? Bagaimana caranya?"
"Kau tidak perlu tahu."
...***...