
...***...
Anak laki-laki itu duduk dipangkuannya. Selanjutnya ada kakek, nenek, papanya, dan juga kakak laki-lakinya bernama Samuel.
Diantara semua orang yang duduk di meja makan bersamanya dan sempat memeluknya, Rei hanya merasa pelukan Stephanie yang berbeda dari yang lainnya.
Saat Rei berpelukan dengan anggota keluarganya yang lain, Rei merasa hatinya sakit tanpa sebab. Tapi tidak dengan Stephanie.
Setelah perkenalan singkat, mereka lalu menghabiskan waktu siangnya dengan makan bersama.
...*...
"Rei?" Stephanie memanggilnya. Rei tersentak kaget dan spontan bangun dari tidurnya.
"Aku mengejutkanmu, ya? Maaf. Tapi kalau kau mau tidur siang, lebih baik kah beristirahat di kamarmu saja. Takutnya kalau kau tidur di sini, kau akan terganggu dengan anak-anak."
Rei bangun dan duduk di sofa yang kini ia tempati. Dirinya berada di ruang tengah dengan ditemani oleh kedua keponakannya yang bermain dengan Shella di depan televisi. Sementara itu, Isyana berbincang dengan yang lainnya di halaman samping, di dekat kolam renang yang terhubung dengan taman.
Apa itu tadi? Aku melihat Elvina sedang berada dalam bahaya. Rei membatin, ia teringat akan mimpi yang menghampiri dirinya. Dalam mimpinya, ia melihat Elvina bertemu dengan seorang wanita yang bisa menghilangkan wujudnya dan berusaha untuk menangkapnya.
Aku harus membantunya. Tapi, bagaimana caranya? Rei memutar otaknya berusaha mencari cara agar bisa memperingatkan Elvina bahwa dia dalam masalah.
"Rei, apa yang kau pikirkan?" Stephanie sekali lagi membuatnya beralih fokus.
Tunggu. Benar! Aku bisa mencoba untuk memberitahunya lewat telepati, tapi terlalu banyak orang di sini. Aku tidak akan bisa fokus, lagipula… aku tidak yakin apakah ini akan berhasil juga atau tidak. Lebih baik aku pindah ke tempat yang lebih sepi, inner-nya.
"Aku akan kembali ke kamar. Aku lelah." Rei bangun.
"Baiklah kalau begitu beristirahatlah, kau pasti lelah, 'kan?"
"Ng, kalau begitu aku permisi." Rei melenggang meninggalkan Stephanie bersama dengan kedua anaknya dan Shella. Wanita itu hanya diam dan memperhatikan Rei yang terus melangkah hingga sosoknya hilang di atas tangga yang dilewatinya.
Tiba di dalam kamarnya, Rei segera menutup pintunya rapat. Ia menghampiri sofa bed yang ada. Setelahnya ia segera berusaha untuk terhubung dengan Elvina lewat kemampuan telepatinya guna memberitahunya kalau ia memiliki firasat buruk terhadapnya.
Semoga ini berhasil, ucapnya dalam hati. Rei memejamkan kedua matanya, menempatkan segala fokusnya pada pikiran. Ia terus memikirkan Elvina, memanggilnya berulang kali lewat pikirannya.
Elvina…
...*...
"Aku benar-benar ingin segera kembali ke kantor dan kembali ke ruanganku. Rasanya benar-benar tidak nyaman duduk dengan si tukang perintah seperti tadi, apalagi dia terus saja menatapku. Sial! Memangnya apa yang dia lihat? Apakah ada sesuatu di wajahku?" Elvina memonolog. Ia memandang wajahnya lewat pantulan cermin yang ada dihadapannya.
Elvina berada di toilet yang kini kosong dan hanya diisi oleh dirinya saja. Rasa kesal bercampur jengkel benar-benar sedang menguasai dirinya, bayangkan saja ketika Elvina sedang makan. Leon terus saja menatapnya nyaris tanpa berkedip, dan Elvina sampai harus mengusap wajahnya berulang kali karena merasa sedikit tersinggung dengan tatapannya.
Setelah berulang kali di tatap Leon, Elvina akhirnya bisa bebas darinya untuk sesaat. Setidaknya dengan adanya chef dan manajer, itu mengalihkannya.
...***...