
...***...
"Sebaiknya kita obati lukamu." Rei duduk di samping Elvina.
"Nanti saja. Aku ingin mengumpulkan energiku dulu."
"Tapi, kalau kau tidak segera di obati. Nanti, lukanya bisa infeksi."
"Itu tidak akan terjadi. Aku ini evolver, kami memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat daripada manusia biasa. Selain itu, jaringan tubuh kami lebih sempurna. Luka seperti ini tidak akan meninggalkan bekas setelah tubuh kami pulih," jelas Elvina.
"Oh… begitu."
"Sekarang aku ingin tanya padamu. Bagaimana kau lakukan itu?" Elvina menatap Rei dengan serius.
Rei menaikkan sebelah alisnya bingung. "Melakukan apa?" Rei balik bertanya.
"Telepati. Bagaimana kau bisa melakukan telepati? Apakah kau seorang evolver? Sebelumnya, kau bisa membaca pikiranku. Lalu sekarang, kau bisa melakukan telepati denganku. Bagaimana kau bisa melakukan semua itu? Lalu, darimana kau mengetahui aku sedang berada dalam bahaya?" Elvina melontarkan tanya secara beruntun. Rei terdiam sejenak, otaknya berputar. Kalau dipikir-pikir, Rei juga tidak tahu pasti bagaimana dia bisa melakukan semua itu.
"Aku juga tidak tahu," ucapnya seraya menggaruk kepala bagian belakang.
Elvina mengerutkan kening. "Kau tidak tahu?"
"Semuanya terjadi begitu saja. Aku tidak yakin bagaimana bisa aku mendengar isi kepalamu, aku juga tidak tahu bagaimana cara melakukan telepati denganmu. Semuanya terjadi secara spontan, dan tanpa aku sadari."
"Lalu, bagaimana kau bisa tahu kalau aku berada dalam bahaya?"
"Mungkin kau tidak akan percaya. Tapi aku melihatmu bertemu dengan pria tadi dalam mimpiku," jelas Rei.
"Mimpi?"
"Iya. Aku memimpikanmu berada dalam bahaya ketika secara tidak sengaja aku tertidur."
"Aku tidak mengerti. Kalau kau adalah evolver, seharusnya kau tidak akan memiliki kemampuan lebih dari dua."
Elvina menghela napas pelan seraya menundukkan kepala. Matanya terpejam untuk beberapa saat, mengambil jeda sejenak sebelum menjelaskan apa sebenarnya evolver dan kenapa mereka bisa memiliki kemampuan diluar batas wajar manusia normal.
"Evolver adalah…" gumam Elvina seraya membuka mata. Perhatiannya mendadak tersita jam di pergelangan tangannya yang berputar. Jam itu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Oh, astaga! Aku lupa sesuatu," pekik Elvina seraya bangkit dari duduknya. Rei terkejut dibuatnya.
"Ada apa?"
"Aku masih harus bekerja. Aku harus kembali ke kantor… oh, tunggu! Aku lupa kalau aku di minta untuk membelikan kopi dan camilan untuk atasanku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kalau aku tidak membawa apa yang dimintanya, si tukang perintah itu pasti akan marah besar." Elvina mulai panik. Rei bangun berusaha menenangkan Elvina.
"Tenanglah, jangan terlalu cemas. Aku akan membantumu," kata Rei. Elvina menatapnya.
"Sungguh? Ah… terima kasih, Rei." Elvina tersenyum lega. "Kalau begitu, ayo pergi. Kita harus tiba sebelum dia sadar aku terlambat selama berjam-jam." Elvina menarik tangan Rei pergi dari sana.
Rei segera naik ke atas motornya. Membonceng Elvina di belakangnya dan mengantarkannya pergi menuju kantornya.
Rei menurunkan Elvina di depan kantor dan memintanya menunggu sementara dirinya pergi untuk membelikan apa yang harus di beli Elvina.
"Kau yakin ingin membelikannya untukku?" tanya Elvina.
"Ya. Lebih baik kau menunggu di sini dan pulihkan tenagamu. Aku akan kembali secepatnya agar kau tidak di marahi oleh atasanmu."
"Terima kasih, Rei." Elvina tersenyum.
"Bukan masalah," sahut Rei.
...***...