
...***...
"Bertemu? Boleh saja. Kebetulan aku juga sedang berada di kafe, kau ke sini saja. Aku sedang bersama Leon."
"Kau sedang bersama kak Leon? Sepertinya nanti saja, aku tidak ingin mengganggu kalian."
"Tidak apa-apa, lagipula kakak sepupu Leon juga akan kemari bergabung dengan kami. Aku akan bicara pada Leon, dan memberitahunya kalau kau akan datang bergabung dengan kami."
"Sungguh, tidak apa-apa."
"Ya. Sungguh, jadi datanglah."
"Okay, kalau begitu kirimkan lokasinya padaku."
"Secepatnya aku kirimkan."
"Terima kasih. Sampai bertemu."
"Ya."
Elvina memutus sambungan telpon, ia segera mengirimkan lokasi terkininya pada Rei agar bisa dengan mudah, lelaki itu menemuinya.
Elvina berbalik dan menghampiri Leon yang kebetulan juga baru selesai bicara.
"Liana bilang dia akan kemari," ujar Leon memberitahu.
"Benarkah? Bagus."
"Omong-omong tadi kau bicara dengan siapa?"
"Rei, dia bilang juga dia ingin bertemu denganku. Tidak apa-apa kalau dia bergabung juga 'kan?"
"Haha, kenapa bisa kebetulan seperti ini, ya? Sepupuku ingin mengobrol denganku, lalu sepupumu juga."
"Haha, kau benar. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa."
"Mungkin itu yang di namakan takdir. Kita mungkin saja memang ditakdirkan untuk bersama." Leon menggenggam tangan Elvina, mendaratkan satu kecupan di punggung tangannya.
Elvina hanya diam sambil tersenyum.
...*...
"Bagaimana?" tanya Aland pada Lucy, mereka berkomunikasi lewat handsfree yang terpasang pada telinganya.
"Bagus. Kalau begitu, aku akan tetap mengawasi di sini dan berusaha mencari petunjuk."
"Iya. Kita bertemu di apartemen."
"Okay."
Lucy menekan tombol kecil pada handsfree-nya lalu kembali fokus pada jalan yang sedang dilaluinya.
Ia pergi dengan menumpang taksi agar bisa tiba di kafe tempat Leon dan Elvina berada. Sementara itu, Aland kini sedang berada di sekolah dan berusaha mencari petunjuk dengan bertanya pada beberapa orang yang tinggal di sekitar sana. Berharap salah satu di antara penghuni di sekitar sekolah ada yang pernah bertemu dengan pria yang mereka maksud.
Supir taksi menghentikan mobilnya tepat di kafe yang di maksud. Lucy melangkah keluar dan membayar dengan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Ia berdiri menatap kafe yang ada di hadapannya. Sementara itu, di sisi yang bersamaan, Rei melintas di hadapannya dengan menggunakan motor dan memarkirkan motornya di lahan parkir yang tersedia.
Lucy beranjak masuk ke kafe.
Rei membuka helmnya dan segera melangkah turun untuk menemui Elvina yang kini menunggunya bersama Leon di kafe.
Saat berjalan memasuki kafe, ia sempat melihat Lucy yang berjalan di hadapannya.
Rei mengerutkan kening, memperhatikan sosok familier yang dilihatnya.
Bukankah itu adalah wanita kemarin? pikir Rei sambil terus memperhatikan wanita yang berjalan di hadapannya.
Rei mengikuti kemana wanita itu melangkah hingga akhirnya mereka tiba di meja yang di duduki oleh Elvina dan Leon secara bersamaan.
"Liana!"
"Rei!"
Elvina dan Leon berucap bersamaan menyerukan nama sepupu masing-masing.
Lucy dan Rei saling pandang saat menyadari Elvina dan Leon memanggil mereka.
"You!" kaget Lucy dan Rei secara bersamaan.
Elvina dan Leon terkejut melihat reaksi mereka saat keduanya berucap bersamaan seakan-akan pernah bertemu sebelumnya.
"Kau adalah pria kemarin 'kan?" tanya Lucy dalam bahasa Inggris padanya.
...***...