
...***...
Leon melajukan mobilnya keluar dari parkiran saat semua urusannya di kantor sudah selesai.
Ia mencari nomor Elvina hendak menghubunginya dan memberitahu kalau ia akan menjemputnya.
Wanita yang jadi kekasih pujaannya itu sedang pergi bersama dengan Linda, ia bilang kalau ada hal yang akan mereka lakukan sepulang kerja, dan Elvina bilang kalau mereka tidak akan bisa pulang bersama.
Begitu menemukan nomor yang dicarinya, Leon segera melakukan panggilan padanya.
"Halo?" Suara di seberang sana terdengar begitu sambungan telpon mereka terhubung.
"Kau dimana? Aku akan menjemputmu, akan kuantarkan kau pulang," tutur Leon sembari sesekali beralih fokus pada jalanan yang di tempuhnya.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa pulang sekarang. Kami masih memiliki banyak kegiatan di sini. Mungkin aku dan Linda, akan pulang agak terlambat. Jadi, kau pulang saja. Kau pasti lelah 'kan?" balas Elvina.
"Kalian masih di luar?"
"Ya. Jadi jangan repot-repot menjemputku karena urusan kami belum selesai."
"Kau yakin aku tidak perlu menjemputmu?"
"Aku yakin."
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang saja."
"Ya. Hati-hati jalan, setelah kau tiba di rumah, segera hubungi aku."
"Kau juga. Begitu kau pulang, hubungi aku."
"Okay."
"Kalau begitu sampai jumpa besok di kantor. Aku mencintaimu."
"Aku juga," jawab Elvina.
Leon tersenyum simpul. Sambungan telpon mereka langsung di putus sepihak oleh Elvina di seberang sana.
Leon melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Masih ada waktu, apakah lebih baik aku menjemput William? Lagipula aku belum pernah menjemputnya pulang. Apakah dia masih ada di sekolah?" Leon memonolog. Entah kenapa secara tiba-tiba ide itu terlintas begitu saja di benaknya.
"Sepertinya ide yang bagus. Aku akan menjemputnya, hitung-hitung sebagai caraku membiasakan diri sebelum menjadi kakak iparnya. Lagipula aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjemput adik di sekolah." Leon semakin merekahkan senyum. Semenjak hubungannya dengan Elvina, Leon jadi banyak merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya.
Leon banyak mengalami hal-hal baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Menjadi seorang kakak, mengantarkan adiknya sekolah, dan sekarang ia ingin mencoba menjemput lelaki yang nantinya akan menjadi adik iparnya.
Wajahnya makin berseri membayangkan bagaimana kehidupannya nanti, kalau hubungan dirinya dan Elvina semakin melangkah menuju jenjang yang lebih serius lagi.
...*...
"Ternyata kalian beraninya keroyokan pada anak SMP?" William menatap mereka tanpa sedikitpun ekspresi wajah takut.
"Sepertinya kau sama sekali tidak takut dengan kami?"
"Untuk apa kau harus takut?" William masih tetap tenang.
Pria itu kembali melangkah hingga jarak William dan dirinya makin sedikit. Sebelah tangannya terulur meremat seragamnya.
"Aku akan memberikanmu pelajaran yang tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu." Lelaki itu mengangkat tangannya siap untuk melayangkan satu tinju pada William, belum sempat ia meninjunya, Leon mendadak datang dan menahan pergerakan pria itu.
"Hentikan?!" Tahan Leon yang baru saja tiba. Seketika perhatian semua orang beralih pada lelaki yang baru saja datang itu.
"Kak Leon." William tersenyum simpul menatap siapa yang datang.
Pria itu melepaskan cengkramannya pada baju William. Ia menatap Leon yang kini berdiri menghalangi William.
"Siapa kau?"
...***...