
...***...
Taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gerbang mewah di perumahan elite.
Lucy dan Aland melangkah keluar setelah membayar supir taksi dengan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Aland mendongak menatap bangunan megah di balik pagar besi yang menutupi halamannya.
Rumah yang bagus, pikirnya.
Seorang pria dengan pakaian hitam-hitam berjalan menghampiri gerbang dan membukakannya untuk mereka.
"Silahkan masuk, tuan sudah menunggu anda di dalam," kata pria itu.
Aland mengerutkan kening, tidak mengerti dengan ucapan pria itu. Tapi beda halnya dengan Lucy yang yakin kalau pria itu mempersilahkannya masuk.
"Thank you," ucap Lucy sambil melangkah masuk dengan Aland yang mengekor di belakang.
Lucy berjalan di halaman yang luasnya cukup untuk menampung lima sampai enam mobil. Di bagian tengah-tengah halaman rumahnya, terdapat sebuah air mancur yang besar dengan hiasan mewah.
"Liana!" Leon telah menunggu mereka sejak tadi. Ia melambaikan tangan pada sosok yang dilihatnya.
Lucy dan Aland menoleh serentak, lalu melangkah menghampirinya.
Itu dia. Dia laki-laki yang aku lihat di foto tadi, pikir Aland yang terus berjalan bersama Lucy hingga tiba di hadapannya.
"Akhirnya kau sampai juga. Bagaimana perjalanannya? Apakah sulit untuk menemukan rumahku?"
"Tidak juga, aku sudah mulai berusaha membiasakan diri untuk belajar bepergian di Indonesia."
"Begitu rupanya."
"Oh ya. Kenalkan, ini rekanku, Aland." Lucy memperkenalkan Aland.
"Aku Leon." Leon mengulurkan tangan padanya. Aland menjabatnya sembari memperkenalkan diri.
Lucy masih tak ingin bicara dengan Aland, ia masih kesal karena ucapan pria itu tadi.
Tiba di dalam, Lucy melihat sepasang orang dewasa yang telah berdiri di ruang tamu menunggu kedatangannya.
"Liana!" Maxime dan Zabrina memanggilnya bersamaan.
"Tante, oncle." Lucy berlari menuju arah mereka dan memeluknya erat.
"Kami sangat merindukanmu." Zabrina memeluknya erat, pun Maxime.
"Aku juga merindukan kalian," balas Lucy sambil tersenyum.
Aland diam terpaku, ia tak menyangka kalau Lucy lebih akrab dengan mereka dari dugaannya.
Bagaimana bisa mereka begitu cepat akrab? batinnya.
"Bagaimana kabarmu?" Zabrina dan Maxime melerai pelukan mereka dan menatap keponakan mereka satu-satunya itu.
"Kabarku baik, seperti yang kalian lihat." Lucy tersenyum simpul.
"Oncle dan Tante sudah mendengar semua yang terjadi pada papa dan mamamu. Oncle benar-benar turut berduka atas kepergian mereka. Oncle bahkan tidak menyangka kalau mereka akan pergi begitu cepat." Maxime nyaris menangis mengingat kakak laki-lakinya Theodore bersama kakak iparnya Caroline yang meninggal dalam kecelakaan.
"Kenapa kau tidak memberitahu oncle dan tante lebih awal?" Zabrina menatap Lucy dengan mata berkaca-kaca.
Lucy menunduk dengan wajah sedih. "Aku tidak tahu bagaimana menghubungi kalian, karena kita sudah lama putus kontak semenjak meninggalnya kakek dan nenek." Lucy menjawab dengan lirih.
"Lain kali, kami akan berkunjung ke London untuk mengunjungi makam kedua orang tuamu."
"Datanglah, kalian akan selalu aku terima. Karena kalian satu-satunya keluarga yang aku miliki," gumam Lucy.
"Kau juga tidak perlu sungkan. Kalau kau membutuhkan apa-apa, katakan pada oncle. Kalau kau mau, kau boleh tinggal di sini bersama kami. Biar kami yang merawatmu," ujar Maxime pada Lucy.
...***...