
...***...
Rei melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya dan mendapati secarik kertas di atas mejanya.
Ia melirik ke arah kertas yang berada di sana. Entah kenapa sejak seminggu awalnya, ia sering kali mendapatkan surat dari para gadis.
Rei memang cukup populer apalagi semenjak masa pengenalan lingkungan sekolah. Namanya menjadi yang pertama kali di sorot oleh semua orang karena sosoknya yang rupawan.
Rei menaruh bukunya di atas meja dan meraih kertas itu. Tanpa membacanya, ia menaruh benda tersebut ke dalam kolong mejanya.
Rei tahu isinya pasti hanya tentang curahan hati setiap gadis yang ingin mendekatinya. Namun untuk Rei, saat ini fokusnya hanya pada masa depannya. Ia sama sekali belum kepikiran untuk menjalin asmara dengan siapapun.
...*...
Perekrutan anggota OSIS. Bayangkan saja, diantara semua yang mencalonkan diri hanya tiga di antara mereka yang berjenis kelamin laki-laki, dan salah satunya adalah Rei.
Rei, memang awalnya berniat untuk masuk dalam anggota OSIS. Namun, ia sempat ragu untuk bergabung, sampai kemudian ia memantapkan hatinya untuk bergabung setelah ketua OSIS nya sendiri yang memintanya untuk bergabung dengan anggota OSIS.
Memang Rei tidak terlalu dekat dengan ketua OSIS, namun beberapa kali mereka sempat bertemu dan entah kenapa lelaki itu begitu berharap dirinya bergabung dalam anggota OSIS.
Bahkan Rei juga tanpa sadar memilih lelaki itu saat pencalonan ketua OSIS yang di selenggarakan beberapa waktu lalu, dan dia benar-benar terpilih sebagai ketua OSIS berikutnya.
Masuk dalam ketua OSIS, Rei bertemu dengan banyak teman baru dari kelas lain. Salah satunya Mirza dan Andrew.
Dalam setengah proses mereka untuk bisa bergabung dalam anggota OSIS, anggota pria bertambah dua yang membuat semuanya berjumlah lima pria dengan sisanya wanita.
Hal ini tanpa sadar membuat mereka dekat dan jadi banyak menghabiskan waktu bersama nyaris tiap hari, saking banyaknya hal yang membuat mereka bertemu karena tugas yang di berikan oleh ketua OSIS pada mereka.
...*...
Satu tahun berikutnya.
2017
Berpisah dengan Marcell. Di kelas delapan, Rei akhirnya benar-benar berpisah kelas dengan lelaki yang satu itu.
Ia kini di tempatkan di kelas VII-V. Entah kenapa, namun setiap nama yang tertera di sana sebagian besar berisi nama orang-orang yang suka membuat onar. Rei hanya berharap dirinya mendapatkan teman yang setidaknya lebih baik dari beberapa nama yang terkenal akan kenakalannya.
Sampai ia menemukan dua nama yang cukup di kenalnya. Haikal, dan Rapi, memang Rei tidak terlalu kenal dengan mereka. Tapi ia tahu, mereka berdua adalah anak yang baik.
Rei tahu Haikal, lelaki itu adalah teman dari pria yang dulu duduk satu meja dengannya saat di kelas tujuh, juga merupakan teman satu kelasnya Mirza.
Sedangkan Rapi. Rei tahu dengannya karena mereka sempat bertemu saat pulang sekolah. Hanya bertemu dan saling tatap satu sama lain tanpa saling mengucapkan sepatah kata pun.
Konyol memang, tak tahu kenapa takdir begitu menggelikan harus menyatukannya dengan orang-orang yang sempat ia temui sebelumnya.
Masa pengenalan sekolah untuk siswa-siswi baru pun di mulai. Inilah kali pertama, pertemuan Rei dan Lusia serta awal dari segala masalah yang harus dihadapinya, terjadi.
...***...