Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 475 - Tidak pulang



...***...


"Bagaimana?" tanya Heru pada Gloria setelah beberapa saat terdiam. Gadis itu menoleh ke arah datangnya suara dengan raut wajah murung.


"Dia tidak bisa di hubungi. Entah kenapa, sejak kemarin Rei juga ikut hilang dan tidak bisa aku hubungi."


"Astaga… kemana sebenarnya mereka? Apa yang terjadi, dan kenapa mereka hilang? Aku benar-benar tidak mengerti. Apakah mereka di culik?"


"Aku juga tidak tahu, yang pasti kemarin aku di telpon berulangkali oleh mamanya Lusia yang menanyakan keberadaannya."


"Gawat kalau mereka sampai hilang. Kita harus lapor polisi!"


"Tidak bisa. Ini belum sampai dua kali dua puluh empat jam. Jadi kita belum bisa lapor."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin kita diam sana 'kan?"


"Kita coba cari ke rumahnya dulu. Setelah itu, baru kita ambil tindakan selanjutnya."


"Okay. Kalau begitu, pulang sekolah nanti, kita langsung pergi ke rumahnya."


"Iya."



...*...


"Bagaimana?" tanya Claire pada asistennya.


"Saya sudah mendapatkan informasi yang anda minta."


"Sungguh?"


"Ya, nyonya. Saya juga sudah mengirimkan beberapa orang untuk mengecek ke rumah kediaman Rei untuk menanyakan keberadaannya."


"Bagus. Terima kasih untuk kerja kerasmu."


"Bukan masalah, nyonya."


"Kau boleh pergi."


Lelaki itu membungkuk sebelum kemudian undur diri dari hadapan Claire.


Sepeninggalan asistennya, wanita tua itu terdiam. Fokusnya beralih pada pigura berisi foto dirinya bersama cucu kesayangannya.


Sudah dua puluh empat jam berlalu, bahkan lebih. Semenjak hilangnya cucu kesayangannya, Lusia.


...*...


"Jadi, Rei tidak datang ke sekolah? Dan kalian datang kemari untuk menanyakan tentang kekasihnya?" tanya Isyana yang kini tampak shock dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Betul. Ada kemungkinan anak ibu membawa Lusia pergi," ujar salah satu lelaki yang mendatangi rumahnya itu.


"Jangan asal menuduh! Anakku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!" kesal Isyana.


"Kami tidak menuduh. Kami hanya berbicara kemungkinan saja."


"Itu kemungkinan, dan bukan berarti anak yang kau maksud itu hilang dengan anakku! Lagipula kemarin Rei pulang ke rumah, dan dia tidak membawa siapapun!" tukas Isyana dengan wajah kesal.


"Jadi Rei kemarin pulang?"


"Ya. Bahkan bukan hanya aku yang melihat, tapi semua orang di rumah ini tahu Rei pulang."


"Apakah anda memiliki bukti?"


Isyana yang kesal segera berteriak memanggil asisten rumah tangganya lalu memintanya bersaksi untuk meyakinkan kedua orang lelaki itu bahwa kemarin, Rei pulang.


Alih-alih membantunya, wanita tua yang menjadi asisten rumah tangganya itu justru berkata tidak. Ia bilang kemarin, Rei tidak pulang seharian.


Isyana membulatkan mata mendengar ucapan dari asisten rumah tangganya itu.


"Apa maksudmu dia tidak pulang kemarin?!" teriaknya kesal.


"Tapi memang benar, nyonya… tuan Rei kemarin tidak pulang," lirih wanita itu.


"Astaga. Kau ini buta, lupa, atau bagaimana? Kenapa kau bisa berkata bahwa Rei tidak pulang?!"


"Kalau nyonya tidak percaya, nyonya bisa cek CCTV di depan rumah. Kalau tuan Rei pulang, pasti beliau tertangkap 'kan?"


"Okay, ayo kita buktikan. Kalau kau sampai salah, awas saja. Aku akan memotong gajimu!" kesal Isyana yang segera mengambil ponselnya dan mengecek rekaman yang terhubung dengan benda itu.


Begitu di cek, ia di buat terbelalak saat ucapan pembantunya itu benar.


...***...