Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 562 - Menunggu hingga markas



...***...


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Mendadak suara seorang wanita membuyarkan fokus mereka berdua. Keduanya spontan menoleh ke arah datangnya suara.


Dari arah pintu masuk yang terbuka, mereka melihat wanita itu berdiri dengan membawa sebuah kotak kayu besar yang kemudian dibawanya menuju salah satu rak yang ada di sana.


"Kau mengejutkan kami saja!" tukas salah satu lelaki itu yang kemudian menghampirinya.


Wanita itu diam, ia kembali melirik keduanya. Namun kali ini dengan ekspresi yang kurang bersahabat. Ia benci ketika pertanyaannya tidak di jawab.


"Aku tanya kenapa kalian ada di sini? Bukankah kalian di larang kemari? Ini adalah area khusus, dan tidak sembarangan orang boleh masuk. Lagipula kapten mencari kalian sejak tadi."


"Kami masuk ke sini bukan tanpa alasan. Kami tadi tidak sengaja melihat pintu ini terbuka, dan aku juga sempat merasa ada seseorang yang masuk. Maka dari itu kami masuk dan mengeceknya."


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Memperhatikan seisi ruangan yang katanya ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam sana.


"Kalian lihat sendiri kan? Tidak ada siapa-siapa selain kita bertiga di sini. Jadi berhenti bicara omong kosong dan pergi! Aku tidak ingin menanggung resiko kalau sampai kapten tahu kalian masuk ke sini tanpa izin." Wanita itu bergerak memutar tubuh keduanya, mendorong punggung mereka keluar dari ruangan tersebut dengan dia di belakangnya.


"Kau harus percaya padaku. Aku punya saksi!"


"Ya, ya. Terserah, yang pasti cepat pergi dari sini!" tukas wanita itu tak peduli. Ia terus mendorongnya hingga keluar ruangan. Begitu mereka keluar, wanita itu menutup pintunya rapat-rapat.


"Dengar! Kalau kalian berdua sampai berani masuk lagi setelah aku pergi, aku akan laporkan kalian pada kapten!"


"Menyebalkan!" komentar lelaki itu.


"Terserah kau saja! Padahal aku bicara yang sebenarnya," gerutu pria itu yang kemudian beranjak pergi dengan rekannya.



...*...


"Huft~" Rei menghela napas lega. Begitu juga dengan yang lainnya. Sekarang mereka bisa merasa lebih tenang karena kedua lelaki yang nyaris mengetahui keberadaan mereka itu sudah keluar.


"Tadi itu hampir saja," gumam Elvina sambil menghela napas lega.


"Kita harus lebih berhati-hati. Karena kalau sampai kita ketahuan, itu akan sangat berbahaya bagi kita semua." Lucy beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menghampiri pintu dan menahan pintu dengan beberapa barang yang cukup berat. Hal ini ia lakukan agar ketikan ada seseorang yang masuk, mereka akan tahu.


"Sekarang bagaimana? Apa rencana kita?" William menatap keempat orang yang sejak tadi bersamanya itu.


"Untuk sekarang kita tidak punya banyak pilihan selain menunggu kapal ini berhenti. Kita juga tidak bisa banyak bergerak karena penjagaan di luar sana begitu ketat," gumam Rei yang di angguki setuju oleh Elvina.


"Karena Melinda dan Andrich tidak mungkin pergi kemana-mana, jadi kita hanya perlu tetap di sini sampai kapalnya tiba di markas mereka," gumam Lucy yang lalu menghampiri tempat Rei duduk. Mereka lantas berkumpul bersama di sebuah meja yang diisi oleh bahan-bahan makanan yang tersedia di sana.


"Iya, memang begitu rencananya," ujar Rei, membalas.


...***...