
...***...
Tuan, aku memiliki ide, ujar Louis yang dalam sekejap menyita perhatian Rei.
Pria itu menoleh pada Louis yang baru saja berbicara.
Apa? Kau memiliki ide apa?
Kita bisa meminta bantuan dari Liana dan Aland untuk melacak keberadaan Elvina lewat alat yang aku temukan.
Oh, kau benar! Rei berbinar mendengar ucapan dari Louis barusan.
Tapi untuk itu, kita juga harus membawa Liana dan Aland ke Dreaworld lalu menyusun rencana bersama mereka di sana.
Itu artinya, kita mempertemukan Elvina, William, Lucy dan Aland di saat yang bersamaan lalu menyusun rencana bersama?
Benar, tuan.
Ide yang cemerlang. Kalau begitu, kita harus segera bertindak.
Louis menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan tuannya.
"Liana, Aland. Ini sudah sangat malam. Bagaimana kalau kita beristirahat dulu, setelah itu kita bisa memikirkan cara lain untuk menemukan keberadaan Elvina dan William," kata Rei yang langsung membuat dahi Lucy dan Aland berkerut bingung.
"Ini baru saja jam delapan, Rei. Bahkan kami belum mengantuk," ujar Lucy.
"Mungkin saja Rei lelah. Tapi kalau kau memang ingin tidur lebih dulu, silahkan. Kami akan mencari cara sebentar lagi."
"Baiklah, kalau begitu aku duluan." Rei beranjak dari tempatnya. Ia lantas melangkah masuk ke dalam kamar tempat dimana ia dibandingkan ketika pingsan.
Tiba di dalam kamar, Rei terdiam di tepi ranjang sambil berusaha memikirkan cara agar bisa membuat Lucy dan Aland tidur lebih cepat.
Dengan begitu, mereka bisa menemui Elvina dan William di dalam mimpi.
...*...
Elvina berlari menuju arah Joe. Tangannya berangkat, baru saja akan menyerang Joe. Namun gelang dalam genggamannya lebih dulu bereaksi. Mengeluarkan sengatan listrik yang dalam sekejap membuat tubuh Elvina lemas.
Brukk!
"Arghh!" ringisnya kesakitan.
"El!" William segera berlari menuju arah kakaknya saat melihat kakaknya tersungkur jatuh di lantai.
William segera berjongkok di dekatnya.
"Will…" Elvina mendongak. Menatap adiknya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Detik berikutnya, Elvina memeluk erat William sambil menangis.
William balas memeluk kakaknya.
"Kau baik-baik saja? Kau tidak terluka 'kan?" Elvina memastikan.
"Aku baik-baik saja. Joe memperlakukanku dengan baik di sini."
"Apa?" Elvina melerai pelukannya dan menatap adiknya dengan raut wajah kaget bercampur bingung. "Kau serius? Dia tidak melukaimu?"
"Tidak. Joe tidak melukaiku." William menggeleng pelan.
Elvina mendelik ke arah Joe yang sejak tadi berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang coba kau rencanakan dengan bersikap baik pada adikku?!" teriak Elvina penuh kesal.
Elvina yakin ada yang tidak beres dengan Joe yang mendadak bersikap baik pada adiknya padahal sudah jelas-jelas dia menyekapnya.
"Jangan salah paham. Aku tidak memiliki rencana apa-apa, aku bersikap baik padanya karena aku tidak ingin dia menyusahkan ku. Itu saja," jelas Joe ketus.
"Aku tidak percaya. Will, kau jangan percaya padanya! Kita tidak tahu bagaimana isi hatinya, bisa saja dia menyusun rencana supaya bisa melakukan sesuatu dengan berbuat baik pada kita," ujar Elvina.
"Terserah kau saja!" tukas Joe dengan wajah kesal. Ia beranjak dari sana, meninggalkan keduanya begitu saja.
"Sudahlah, hiraukan dia. Yang terpenting sekarang aku baik-baik saja," kata William.
"Aku senang…"
...***...