
...***...
"Tidakkah lebih baik kalau kita coba telpon dia? Bukankah itu lebih mudah?" Pricilla mengusulkan.
"Tidak mungkin. Itu terlalu berisiko. Kalau kita mencoba menghubunginya, maka akan lebih mudah bagi kita ketahuan. Orang-orang yang mencariku pasti sudah meminta evolver yang bekerja di bidang komunikasi untuk menyadap setiap alat komunikasi di seluruh penjuru dunia agar mereka bisa menemukanku. Selain itu, mereka pasti akan menggunakan voice match untuk mengenali suaraku. Walaupun aku memalsukan suara, mereka akan tetap mengenaliku. Begitu juga dengan dirimu…"
"…Semenjak kau memutuskan untuk ikut denganku, sejak saat itu juga mereka langsung mencari tahu tentang dirimu. Di sisi itu, aku tidak hafal nomor Jessy," jelas Derek panjang lebar.
"Argh, benar-benar merepotkan. Kita sungguh tidak bisa melakukan apa-apa selain mencarinya secara langsung?" Pricilla merungut. Entah kenapa untuk pertama kalinya bagi seorang Pricilla, hidup di dunia modern terasa bak hidup di zaman purba.
"Begitulah. Itu sebabnya aku tidak melakukan hal itu sejak awal," gumam Derek pelan.
Pricilla mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia benar-benar tidak menyangka kalau pelarian dan masalah mereka serumit ini.
Atensi mereka berdua mendadak beralih saat perut Pricilla berbunyi nyaring, memberitahukan pada sang empu kalau dirinya butuh untuk di isi.
Derek menatapnya dengan wajah tertegun.
"I… itu bukan aku." Pricilla berucap terbata. Wajahnya merah merona.
Derek terkekeh mendengar kalimatnya. "Tunggu di sini."
Derek bangun. Berlalu menuju salah satu jalan. Pricilla mengerutkan kening, entah apa yang hendak di lakukan lelaki itu.
Setelah beberapa saat menatap ke arah dimana Derek menghilang, Pricilla akhirnya bisa melihat sosoknya lagi.
Derek kembali, dengan makanan di kedua tangannya.
"Makanlah, kau masih butuh energi untuk melanjutkan perjalanan." Derek menyodorkan makanan di genggamannya.
"Terima kasih." Pricilla langsung menyambar dan melahapnya. Tidak bisa di pungkiri, dirinya memang betul-betul lapar.
"Kita lanjutkan perjalanan setelah beristirahat," ujarnya yang di sahut gumaman oleh Pricilla.
...*...
Oslo, Norwegia.
Ron dengan ditemani tuannya, datang jauh-jauh ke Oslo-Norwegia hanya untuk menangkap Derek dan Pricilla begitu tahu mereka ada di sana.
Setibanya di Oslo, Ron segera menemui mereka dan menanyakan keberadaan Derek dan Pricilla.
"Maaf, tapi kami gagal menangkap mereka." Kalimat itu terlontar dengan suara gemetar. Kepalanya tertunduk dengan tubuh yang menggigil ketakutan.
"Apa?!" Tuannya itu melotot mendengar apa yang baru saja di ucapkan lelaki itu. Walaupun dalam bahasa yang berbeda, namun ia tahu dan mengerti betul dengan apa yang baru saja di ucapkan lelaki itu.
"Kenapa kalian bisa gagal menangkap mereka?!" Kalimat penuh perasaan murka itu membuatnya semakin ketakutan.
"Kami benar-benar minta maaf, tuan. Tapi mereka benar-benar cepat, dan kami tidak bisa mengejar mereka. Itu sebabnya mereka lolos dari kejaran mereka," jawabnya.
"Di tambah, saat itu kami sedang dalam misi pengejaran salah satu target, tuan." Yang lain menambahkan.
"Alasan?! Memang pada dasarnya kalian itu payah!" tukasnya penuh emosi.
Para evolver itu lantas diam mengatupkan mulutnya masing-masing.
"Sekarang katakan, apakah kalian tahu kemana mereka pergi setelah itu?" Ron yang sejak tadi diam, mulai angkat bicara.
"Kami tidak tahu. Kami sudah berusaha mencari mereka juga."
...***...