
...***...
"Nenek tahu saja apa yang aku lakukan."
"Kenapa? Apakah benar, tebakan nenek?"
"Ya."
"Lalu, siapa yang kau tunggu? Apakah kekasihmu? Kau sedang menunggu kabar darinya?"
"Haha, kenapa tebakan nenek selalu benar? Apakah nenek bisa membaca pikiranku? Kalau begitu coba baca pikiranku apa yang sedang aku pikirkan sekarang." Lusia memberikan lelucon kecil. Claire hanya bisa terkekeh menanggapi ucapan Lusia yang kini malah meledeknya.
"Hahaha, ayolah. Kau pikir nenek ini peramal?"
"Lalu, kenapa setiap tebakan nenek selalu benar?"
"Nenek juga pernah muda, dan nenek juga memiliki dua anak perempuan. Jadi nenek tahu bagaimana ciri-ciri seorang gadis yang tengah jatuh cinta, apalagi dalam usia muda sepertimu. Selain itu, nenek juga hidup di lingkungan anak-anak remaja yang penuh dengan percintaan. Nenek sudah hafal betul."
"Ya, nenek memang ahlinya. Buktinya saja nenek tahu apa yang sedang aku lakukan sejak tadi."
"Jadi, benar?"
"Benar sekali, aku senang menunggu kabar dari kekasihku."
"Benarkah? Siapa lelaki yang sudah berhasil luluhkan hatimu itu? Bukankah kau selalu menjaga jarak dengan lelaki?"
"Ya… tapi dia berbeda dari semua lelaki yang pernah aku temui. Saat pertama kali aku melihatnya, jantungku sudah berdebar. Dia memiliki wajah yang tampan, senyuman yang begitu mempesona, penuh karisma, sosok yang sangat berprestasi, lembut, dan perhatian."
"Dia terlalu sempurna untuk seorang lelaki, memangnya ada lelaki seperti itu di dunia nyata?"
"Ada."
"Kalau begitu, kau sangat beruntung mendapatkan lelaki sempurna sepertinya. Jangan lepaskan dia, atau kau akan menyesal."
"Aku tidak akan melepaskannya, karena sudah cukup lama aku menunggu untuk bisa bersamanya."
Wajah Lusia merona. Belum pernah ia berpikiran sampai sana. Neneknya benar-benar berpikir sejauh itu untuk hubungannya.
Perhatian keduanya tiba-tiba tersita saat salah satu anggota keluarganya berteriak memanggil Claire.
"Nenek harus pergi dulu, kita lanjutkan obrolan kita nanti."
"Baiklah." Lusia mengangguk.
Claire beranjak bangun dan meninggalkan Lusia seorang diri. Sepeninggalan Claire, Lusia kembali beralih fokus pada titik-titik air hujan yang ada pada kaca jendela di dekat tempatnya terduduk.
Menjadi suami? Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, pikir Lusia sembari senyum-senyum sendiri memikirkan kalimat neneknya yang cukup menggelitik.
"Lusia?" Bariton seorang laki-laki menyita perhatiannya. Lusia menoleh ke arah lelaki itu.
"Kakek." Lusia tersenyum simpul.
Cato namanya, adalah kakek ketiganya. Merupakan satu-satunya anggota keluarga Lusia yang kini hidup sendiri—maksudnya tanpa berkeluarga.
Semenjak perceraiannya beberapa tahun lalu, Cato enggan untuk menjalin kasih dengan wanita lain. Terlebih pria itu sudah mulai beranjak tua. Usianya hanya berbeda beberapa belas tahun dengan usia Claire.
Kalau Claire mengikuti jejak kakaknya menjadi seorang guru, beda halnya dengan Cato. Lelaki itu merupakan seorang dosen di salah satu universitas ternama di London. Ia hanya pulang ke Indonesia beberapa kali dalam setahun.
Karena status lajangnya, ia jadi tak pernah datang berkunjung ke Indonesia selain untuk bertemu keluarga atau bisnis sampingan yang ia geluti.
Lusia bangun dari duduknya, beranjak memeluk lelaki di hadapannya.
"Lama tak jumpa, aku rindu dengan kakek," tutur Lusia seraya tersenyum.
Cato balas tersenyum ke arahnya. Ia membalas pelukan yang Lusia berikan.
...***...