
...***...
"Permainan selesai," kata Andrich yang berhasil membuat Melinda terbelalak.
"Apa maksudmu?" Melinda menatapnya bingung.
"Terima kasih karena sudah mau bertukar energi. Aku memiliki tugas penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Tadi aku hanya kelelahan, dan hal itu memicu sistem endokrin dalam tubuhku tidak stabil. Tapi setelah bantuan darimu, dan serum yang diberikan profesor, aku jadi lebih bertenaga dan bisa kembali fokus pada pekerjaanku."
"Apa?!" Melinda bangkit.
"Sampai jumpa." Andrich berbalik, meninggalkan Melinda dalam keadaan berantakan.
Sial! Jadi sejak tadi dia hanya mempermainkanku? Melinda mengepalkan tangannya. Emosinya mendadak naik hingga ke ubun-ubun kepalanya.
Ia merogoh tempat pil obat penambah energi yang dimintanya dari profesor, melemparkan keras benda itu hingga tepat mengenai bagian belakang kepala Andrich.
"Arghh…" ringisnya kesakitan saat benda itu mendarat mulus di kepalanya.
Andrich mendelik kesal ke arahnya.
"Kalau kau membutuhkan energi, makan saja obat itu dan jangan membuatku berharap?!" pekiknya kesal.
Andrich menunduk menatap tempat obat yang baru dilemparkan olehnya. Ia berjongkok untuk mengambil obat yang diberikannya.
Srakk!
Melinda bangun dan menutup tirai itu paksa. Ia benar-benar malu sekarang ini.
"Terima kasih untuk pilnya." Dengan santai Andrich berucap. Detik berikutnya, ia melangkah pergi meninggalkan Melinda yang kini hanya seorang diri di dalam ruang UKS.
Melinda duduk membenahi pakaiannya yang berantakan. Ia duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Dia membuatku berharap lebih, batinnya.
Blam!
Pintu tertutup. Suaranya yang terdengar keras membuat fokus Melinda beralih. Ia beranjak bangun hendak memaki orang yang baru saja masuk, yang dianggapnya adalah Andrich yang kembali untuk mengambil sesuatu. Tapi ia mengurungkan niatnya saat mendengar suara pria lain.
"Sepertinya aku salah lihat. Mungkin karena aku kelelahan, jadi aku berhalusinasi. Lagipula untuk apa Aland di sini?" Rei bergumam pelan.
Melinda terdiam di tempatnya. Ia bergerak menuju sisi tirai dan mengintip ke arah datangnya suara.
Ia membulatkan mata begitu melihat Rei yang berdiri di depan pintu keluar.
Rei? Mau apa dia kemari? Melinda memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. Lelaki yang sejak tadi dicarinya justru datang menghampirinya sendiri.
Rei menghampiri salah satu kabin yang ada. Ia menutup tirai yang ada dan mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang tersedia.
Rei memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk tidur guna memulihkan energinya.
Rei sakit? Tapi kenapa bisa? Seharusnya seorang evolver tidak akan pernah bisa sakit karena mereka memiliki sistem daya tahan tubuh yang lebih sempurna dan lebih kuat dari manusia murni. Melinda berusaha mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
Demi apapun, ia benar-benar melihat Rei baru saja masuk dan berbaring di salah satu kabin yang ada tepat berhadapan dengan kabin tempatnya berada.
"Apa aku salah melihat? Tapi tidak mungkin. Aku benar-benar melihat itu adalah Rei," gumamnya pelan.
Melinda kembali mengintip keluar tirai. Keadaan ruang UKS begitu tenang. Hanya ada dirinya dan Rei berdua saja yang berada di ruang UKS. Sementara dokter jaga yang seharusnya duduk dimejanya, kini sedang pergi untuk menikmati jam makan siang.
Aku harus mengeceknya dan memastikan apakah itu benar-benar Rei, atau hanya perasaanku.
...***...