
...***...
"Kau tidak tahu saja kalau lelaki itu bukanlah lelaki biasa." Pria itu mengalihkan fokusnya kembali pada dua orang yang tengah diintainya.
"Memangnya apa yang istimewa darinya selain dia memiliki wajah yang tampan?" Gadis itu mengulum senyum melihat sosok rupawan lelaki di sana.
"Kau benar. Dia memang tampan, tak jauh denganku. Tapi bukan itu yang membuatnya istimewa, melainkan kemampuannya."
"Kemampuan? Maksudmu dia bukan manusia murni? Apakah dia seorang evolver sama sepertimu?"
"Aku juga tidak tahu, tapi dari aura tubuhnya… aku bisa merasakan kalau dia adalah manusia murni. Namun anehnya, dia memiliki energi yang begitu luar biasa kuat, dan selain itu… dia memiliki kekuatan layaknya seorang evolver."
"Aku bingung, bagaimana bisa?"
"Itulah alasanku kenapa aku mencarinya. Aku di perintahkan tuan untuk menangkapnya dan membawanya ke hadapan tuan, kami harus cari tahu apakah dia evolver atau bukan. Kalau dia memang evolver… maka bisa dipastikan bahwa selama ini, dia melarikan diri."
"Itu berarti tugasmu akan lebih bertambah, karena targetmu bukan hanya satu orang. Melainkan dua." Gadis itu menunjukkan tangannya membentuk angka dua dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Pria itu menoleh padanya.
"Ya, benar. Oh ya, tampaknya aku pergi sekarang."
"Secepat itu? Kau mau kemana?"
"Aku harus melaporkan sesuatu pada tuan. Sampai jumpa." Pria itu beranjak bangun. Dalam satu gerakan, tubuhnya berubah menjadi asap dan menghilang bersama hembusan angin.
"Sangat di sayangkan, padahal aku masih ingat mengobrol dengannya," gumam gadis itu dengan wajah murung. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada ruangan yang semula dilihatnya.
Tampan… pikirnya saat melihat pria yang duduk di dekat jendela bersama seorang gadis dihadapannya.
Lusia menoleh keluar jendela saat ia merasa kalau sejak tadi ada seseorang yang tengah mengawasi mereka. Tapi begitu menatap ke arah luar jendela, ia sama sekali tak dapat menemukan siapapun.
Aneh… kenapa aku merasa ada yang mengawasiku akhir-akhir ini? batinnya.
Rei mengalihkan pandangannya ke arah yang dilihat Lusia saat ia mendengar suara hatinya.
"Kau merasa ada yang mengawasimu?"
"Huh?" Lusia tertegun. Ia menoleh spontan ke arah Rei yang baru saja bertanya. "Apa? Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Lusia dengan wajah heran.
"Gerak-gerikmu, kau baru saja menoleh keluar jendela dan menatap tepat ke satu arah. Bersikap seolah-olah sedang mencari seseorang." Rei beralasan. Beruntung otaknya bisa dengan cepat mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Lusia, tidak mungkin dirinya berbicara yang sejujurnya pada gadis itu kalau ia bisa membaca isi hatinya. Elvina sudah memperingatkannya agar tidak memberitahukan kemampuan yang dimilikinya para orang lain.
Aku kira dia bisa membaca pikiranku. Lusia menghela napas lega, ia tadi benar-benar terkejut dan mengira kalau Rei bisa membaca pikirannya.
Aku memang bisa membacanya dengan sangat jelas, balas Rei dalam hati.
"Lupakan! Jangan tanya apapun!" Lusia mengalihkan perhatiannya lagi pada buku yang berada dalam genggamannya.
Rei terdiam tanpa merespon, ia tahu kalau Lusia hanya tidak untuk bercerita lebih jauh mengenai apa yang terjadi dengan dirinya.
Rei kembali menatap keluar jendela, melihat ke arah yang semula dilihat oleh Lusia.
Apakah gadis itu yang selama ini mengawasinya? Tapi, siapa dia? Kenapa dia duduk di atas sana. Bukankah itu sangat tinggi? Apakah dia tidak takut jatuh?
...***...