Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 217 - Buku berjatuhan



...***...


Brukk!


Beberapa buku berjatuhan dari atas rak menimpa tubuh Rei. Beruntung ia berhasil melindungi Lusia dari buku-buku yang mendadak jatuh itu.


Lusia terkejut saat menyadari ternyata Rei berusaha melindunginya dari buku-buku yang jatuh dari atas rak.


"Kau baik-baik saja?" Rei melonggarkan pelukannya, menatap Lusia yang kini dalam dekapannya.


Wajah Lusia memanas dan mulai berubah merah. Apalagi saat wajah Rei sekali lagi lebih dekat dengan dirinya. Jantungnya bahkan berderu lebih kencang lagi.


"Apa yang kau lakukan! Jangan sentuh aku!" Lusia mendorong Rei lagi sampai membuat pria itu bergerak menjauh darinya. "Dengar! Aku tidak perlu perlindungan darimu!" teriaknya.


Beberapa orang siswa dari balik rak tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Astaga, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja menjatuhkan semua buku-buku ini. Tadinya aku ingin membawa…"


"Lain kali kau harus lebih berhati-hati, jangan sampai membuat orang lain celaka karena kecerobohanmu!" potong Lusia dengan raut wajah kesal, ia mendelik ke arah gadis yang baru saja menjatuhkan buku-buku itu dari rak.


"Aku benar-benar minta maaf." Gadis itu tertunduk.


Lusia menghiraukannya. Ia melirik Rei sekilas dengan tatapan tak bersahabat sebelum kemudian berjalan melewatinya dan meraih satu buku yang baru saja jatuh dari atas sana.


Rei terdiam memandangi kepergian Lusia. Sedang, gadis yang tadi menjatuhkan buku itu mulai berjongkok dan membereskan kekacauan yang ia buat.


Rei membantunya. Setelah itu mengambil satu buku dan segera pergi dari sana.



...*...


Rei terus berjalan mengikuti Lusia yang juga keluar cukup bersamaan dengannya.


"Aku harus tanyakan ini padanya agar aku tahu apa yang membuatnya bersikap dingin dan terus membuat jarak denganku seperti ini. Aku mulai merasa tidak nyaman," gumam Rei pelan bagai bisikkan. Ia bergegas berlari mengejar Lusia.


...*...


"Elvina!" Leon tiba-tiba membuatnya kaget saat Elvina melangkah keluar hendak makan siang, dan pria itu mendadak muncul di depan pintu ruang kerjanya.


"Bapak benar-benar membuat saya terkejut," ujar Elvina. Ia mengusap pelan dadanya yang guna memenangkan degup jantungnya akibat terkejut.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut. Aku kemari hanya ingin mengajakmu makan siang bersama."


Aku harap kali ini dia tidak menolak, pikir Leon. Ia menatap Elvina penuh harap.


"Makan siang bersama bapak? Ayo, kebetulan ada yang ingin saya bicarakan juga."


"K… kau serius ingin makan siang bersamaku?" Leon berubah sumringah, senyuman mendadak terbit di wajah tampan khas Eropanya.


Leon tak menyangka kalau Elvina kali ini akan menerima ajakannya untuk makan siang bersama, setelah berulang kali gagal. Akhirnya ia berhasil membuat Elvina mau makan bersamanya.


Ini adalah suatu kemajuan, artinya usahaku tidak sia-sia. Memang benar kata Irfan, aku harus mendekatinya dengan cara halus agar Elvina luluh denganku, batin Leon.


"Kalau begitu ayo makan di luar," ajaknya.


...***...