Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 209 - Mencari petunjuk



...***...


Dengan suara tersendat dan begitu berat terucap, ia berkata "M… mungkin hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku harus pergi sekarang."


Air matanya kembali mengalir dengan deras saat pria itu mengucapkan perpisahan.


Ia berbalik dan melangkah meninggalkan Rei dengan teramat pelan.


Rei mengulurkan tangan. Berusaha menarik tangan pria itu dan menghentikannya untuk pergi. Namun entah kenapa kakinya seakan terpatri pada lantai yang dipijaknya.


Tidak! Jangan pergi! Ada apa ini?


Rei memegangi lehernya saat ia sadar suaranya sama sekali tak bisa keluar padahal tadi ia bisa mengucapkan sesuatu.


Rei kembali menatap si albino yang kini melangkah semakin jauh. Rei membuka mulutnya lebar-lebar berusaha berteriak dan menghentikan langkah pria itu. Ia tak rela ia pergi begitu saja, bahkan mereka baru saja bertemu. Rei tidak ingin mereka berpisah lagi.


Tidak! Jangan pergi!


Rei terus menyerukan hal yang sama dalam benaknya, tapi sama sekali tak dapat membuat pria itu berhenti melangkah.


Pria itu terus melangkah menuju cahaya yang dilihatnya. Semakin jauh. Semakin tenggelam juga pria itu dalam cahaya hingga membuat Rei tidak dapat melihat punggungnya dengan jelas.


"L… Lou…"


Rei membuka kedua spontan. Ia bangun dan duduk di ranjang yang di tempatinya.



Rei merasa sangat sedih. Ia berusaha mengatur napasnya dan mengumpulkan seluruh kesadarannya hingga seratus persen.


Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menetes dari kedua pipinya. Rei mengusap wajahnya, dan cairan bening itu benar-benar membasahi kedua bagian wajahnya. Rei menangis.


Rei diam seribu bahasa setelah merasa tenang.


"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?"


"Siapa pria dalam mimpiku itu dan kenapa dia menangis sambil memelukku lalu mengatakan hal-hal yang membuat dadaku terasa sesak?" Rei memonolog.


Berbagai pertanyaan mulai bermunculan menghampiri pikirannya.


Malam itu, pukul dua dini hari adalah menjadi awal karena untuk pertama kalinya, Rei tidak memimpikan hal yang sama.


...*...


Keesokkan harinya, setelah makan malam. Rei memutuskan untuk mencari sesuatu di buku harian yang ditemukannya, dan berharap menemukan sedikit petunjuk mengenai lelaki yang ia temui dalam mimpinya.


Sepanjang hari, pikirannya terus tertuju pada mimpi yang ia alami. Ia bahkan tidak bisa fokus pada pelajaran yang diikutinya.


Rei terus mencari di setiap buku yang ia temukan. Bahkan ia mencari hingga ke buku-buku lain yang ada di atas meja dan rak miliknya. Rei mencari hingga tengah malam.


"Aku sama sekali tak menemukan sedikitpun petunjuk mengenai pria dalam mimpiku," gumam Rei yang sudah mulai merasa lelah untuk mencari.


Jam di atas mejanya bahkan sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit malam. Besok, dirinya masih harus pergi ke sekolah. Tapi sampai jam segini, dirinya masih belum tidur.


Rei mulai merasa lelah. Ia mengucek kedua matanya berulang kali saat matanya mulai meminta untuk beristirahat. Ia menguap. Tapi tekadnya terlalu kuat dan sulit untuk ia abaikan.


"Aku tidak boleh tidur sekarang! Aku masih belum berhasil menemukan petunjuk mengenai pria itu!" gumam Rei. Ia menggelengkan kepalanya kuat guna menendang semua rasa kantuk yang menghampiri dirinya.


Rei kembali membuka lembar demi lembar buku yang ada dalam genggamannya. Ia membacanya secara perlahan-lahan.


...***...