
...***...
Klik!
Lampu menyala begitu Louis berhasil menemukan tombol lampu.
William langsung membuka kedua matanya lebar-lebar. Terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Ia menoleh ke arah pintu masuk. Tapi pintu yang tertutup membuatnya kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa lampu bisa tiba-tiba menyala seperti itu.
Louis melangkah meninggalkan William. Walaupun bisa bertemunya secara langsung, tapi dirinya sama sekali tidak bisa menolong. Terlebih William tidak bisa melihatnya.
Louis menggunakan kemampuannya. Terbang keluar hingga berada di atap rumah yang ditempati Joe dan William.
Di atas udara, ia mencoba mengecek posisinya berada.
Pepohonan, dan hutan gelap. Bisa di pastikan keberadaannya sekarang berada di pelosok.
Ternyata tempat ini benar-benar masih berada di area Jakarta. Aku harus mencari cara agar bisa membuat tuan dan Elvina berhasil menemukan William.
Tapi, bagaimana caranya?
Louis kembali ke dalam rumah dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai petunjuk untuk Rei nantinya.
Ia kembali ke kamar Joe dan berharap bisa menemukan ponsel atau semacamnya yang bisa mengirimkan sinyal lokasi.
Di dalam sana, ia akhirnya menemukan telecosys milik Joe.
"Benda ini bisa aku gunakan," gumamnya pelan.
...*...
Rei dan Elvina terdiam di tepi pelabuhan. Duduk menghadap ke arah laut lepas yang membentang luas dihadapannya.
Sudah berjam-jam, bahkan semalaman penuh mereka berusaha mencari keberadaan William hingga ke tengah laut dengan kekuatan terbang Rei.
"Aku benar-benar yakin kalau pulau itu ada di sana. Tapi kenapa kita tidak bisa menemukannya sama sekali? Ini benar-benar aneh," gumam Elvina dengan suara pelan. Ia menatap nanar laut dihadapannya.
"Sepertinya mereka menggunakan sesuatu seperti perisai tidak terlihat seperti yang kau ceritakan saat bertemu dengan Luna," sahut Rei.
"Mungkin kau benar. Tapi ada hal lain yang tidak kita temukan juga, yaitu kabut yang kumaksud." Elvina menampakkan raut wajah murung.
"Sudahlah, lebih baik kita pulang dan beristirahat sebentar. Kau masih harus bekerja 'kan? Kita cari William nanti. Yang terpenting, sekarang kita beristirahat dan pulihkan energi kita." Rei membantu Elvina untuk bangun.
"Kau benar. kita harus mengisi energi supaya kita bisa terus mencari William."
"Jangan sampai kau sakit."
Elvina bangun dengan bantuan Rei. Mereka lantas beranjak pergi meninggalkan tempatnya.
"Omong-omong, maaf karena membuatmu harus terjebak semalaman bersamaku. Kau pasti akan di marahi oleh mamamu begitu kau ketahuan pulang sepagi ini 'kan?"
"Aku tidak akan pulang. Aku akan menemanimu dan memastikan kau baik-baik saja."
"Apa? Tidak! Kau tidak boleh begini. Kau harus pulang, jangan membuat masalah lain dengan kau tidak pulang. Apalagi semalaman kau keluar tanpa memberitahu mamamu."
"Tapi…"
"Kau harus pulang. Jangan menambah masalah lain untukku. Aku mohon…" Elvina menatap lekat lelaki yang jadi sepupunya itu.
Rei menghela napas.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi kau harus berjanji untuk pulang juga dan beristirahat, okay? Kau harus mengembalikan energimu juga agar kau bisa memiliki tenaga untuk mencari William. Aku janji, aku akan membantumu mencarinya."
"Okay, aku berjanji."
Rei merekahkan senyum. Mereka berdua lantas pergi dari sana, meninggalkan pelabuhan dan pulang untuk beristirahat dan memulihkan energi.
...***...