
...***...
Mads, pria itu beralih fokus ke arah datangnya suara dan mendapati Annika yang berdiri di ambang pintu masuk.
"Teman-teman, ada apa ini…" katanya yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Begitu tiba di sana, ia membulatkan kedua matanya begitu melihat laboratorium milik profesor Ian hancur.
"Annika, lari!" teriak Derek ke arahnya.
"Apa?"
"Pergi, jangan datang kemari!" teriak Pricilla ke arahnya.
Annika berusaha memproses apa yang terjadi. Ia masih bingung. Tapi Pricilla dan Derek terus berteriak memerintahkannya untuk pergi.
"Lari. Bawa profesor!" teriak mereka lagi.
"B… baiklah," sahut Annika dengan panik. Ia segera berbalik. Hendak melarikan diri seperti yang di perintahkan Derek dan Pricilla.
"Tidak ada siapapun yang boleh keluar dari ruangan ini!" Mads menggerakkan tangannya ke arah pintu hingga menciptakan sebuah ledakan di hadapan Annika.
"Kyaa!" Annika spontan berteriak sambil melindungi kepalanya.
Derek menggerakkan tangannya. Menahan reruntuhan yang nyaris menghantam kepalanya dengan kekuatannya.
"Lari, cepat!" teriak Derek padanya.
Annika membuka mata dan segera berlari dari sana.
"Lawanmu adalah aku!" Derek menatapnya tajam.
"Tentu saja lawanku adalah kau. Tapi karena ulahmu ini, kau sudah membuat orang lain juga menjadi korban. Harus berharap denganku!" Mads tersenyum ke arahnya.
"Jangan sakiti orang lain, karena orang yang kau inginkan adalah aku."
"Banyak omong!" Mads menghempaskan tangannya yang dalam sekejap menciptakan sebuah ledakan api besar yang langsung mengarah pada Derek dan Pricilla.
Brukk!
Derek dan Pricilla tersungkur di lantai dengan kondisi terluka. Tubuh merek terkena percikan api dari ledakan yang tercipta dari kemampuannya.
"Aku tidak ingin banyak omong kosong, lebih baik kau ikut saja denganku tanpa perlu banyak perlawanan." Mads menghampirinya dengan mengepalkan kedua tangannya.
Aku tidak akan menyerah begitu saja, pikir Derek yang kemudian menggerakkan kedua tangannya.
Satu kali hentakan. Dan tubuh Mads langsung terhempas jauh dari posisi semula.
"Hasil penelitianku. Aku harus menyelamatkannya." Derek bangkit tertatih.
"Derek…" Pricilla berusaha untuk bangun dan membantunya, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak.
Derek bergegas menghampiri meja guna membereskan semua penelitiannya.
"Tidak semudah itu!"
Duarr!
Mads meledakkan semua hasil penelitiannya sebelum Derek sempat menyelamatkan semuanya.
Derek mundur beberapa meter dari meja kerjanya. Berusaha menghindar dari api yang berkobar di sana.
Kedua matanya terbelalak melihat seluruh kertas berisi hasil penelitiannya, lengkap dengan bahan-bahan penelitiannya yang terbakar habis menjadi abu.
"Tidak. Hasil penelitianku…" Derek meratapi semuanya.
Emosinya perlahan meningkat hingga mencapai ubun-ubun. Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Kau tidak akan pernah melakukan penelitian ini lagi untuk selamanya, Derek!" Mads menghampirinya.
Derek mendelik ke arahnya dengan penuh emosi.
Ia merentangkan kedua tangannya. Memusatkan seluruh energinya pada kedua telapak tangannya.
"Kau sudah menghancurkan semua kerja kerasku, dan aku tidak akan membiarkanmu begitu saja!" Derek mengepalkan tangannya hingga membuat seluruh benda di sana melayang di udara.
Pricilla tertegun melihat Derek yang semarah ini. Belum pernah dirinya melihat Derek yang seperti ini.
"Memangnya apa yang mampu kau lakukan?" Mads tersenyum meremehkannya.
Derek menghempaskan tangannya ke arah Mads. Seluruh benda yang melayang atas kendalinya spontan berterbangan menghampiri Mads.
Mads berhenti. Ia tersenyum melihat emosi dari Derek.
...***...