
...***...
"Ingat, kau jangan pergi kemana-mana sendirian. Aku tidak ingin kau tersesat dan tidak bisa pulang." Elvina mengingatkan. Rei menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Aku akan tetap di rumah hingga kalian pulang," jawab Rei.
"Nanti, Will akan pulang lebih dulu. Kalau kau lapar ada beberapa makanan di kulkas yang bisa kau makan."
"Oke."
"Kalau begitu kami berangkat. Jaga dirimu baik-baik." Elvina menepuk pundak Rei pelan.
"Sampai jumpa siang nanti." Pamit William seraya beranjak bersama Elvina.
...*...
"Akan aku pastikan mereka tidak bisa lari dari kejaranku, kali ini." Joe mengepalkan kedua tangannya erat. Ia menatap tajam pada pantulan wajahnya di cermin yang ada dihadapannya.
Joe baru saja selesai mengenakan pakaiannya. Setelah usai, ia lantas melangkah keluar dari dalam ruangannya. Joe melangkah pergi.
Joe menghentikan langkahnya sejenak begitu ia tiba di halaman rumahnya. Kepalanya menatap telecosys yang berada dalam genggamannya sejenak. Telecosys itu menyala menampakkan foto dirinya bersama dengan Derek yang diambil beberapa waktu lalu.
Joe mendongak menatap ke arah bangunan rumah dibelakangnya. "Tidak ada waktu untuk memikirkan orang yang egois," gumamnya pelan.
Joe mengotak-atik telecosysnya. Mengubah layar tampilan home-nya menjadi gambar lain tanpa foto dirinya dan Derek.
...*...
"Selamat pagi," sapa Elvina yang dalam sekejap menyita perhatian semua orang dengan kedatangannya.
"Pagi," sahut mereka serentak sambil tersenyum ramah menyambut kedatangannya.
Elvina mengulum senyum. Walaupun menjadi salah satu yang termuda di perusahaan, namun Elvina berhasil mencapai kesuksesan dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Karena kejeniusannya dalam matematika membuat Elvina yang baru saja berusia delapan belas tahun sudah menduduki jabatan sebagai kepala keuangan di kantornya.
Bagi setiap orang yang melihat dan tahu, kehidupan Elvina adalah anugerah karena mendapatkan otak jenius yang membuatnya mampu duduk di jabatan kepala keuangan dalam waktu singkat. Orang-orang bahkan tahu, Elvina hanya lulusan SMA yang bahkan tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah. Tapi, otaknya berhasil menuntun Elvina hingga mampu membuatnya mengalahkan para senior di kantor yang bahkan rata-rata adalah lulusan S2.
Lain mata, lain pandangan. Saat orang lain tahunya kehidupan Elvina adalah anugerah. Beda halnya dengan Elvina yang justru menganggap semua itu adalah kutukan. Kenapa demikian? Karena Elvina merasa mendapatkan semua itu bukan atas kerja kerasnya sendiri. Melainkan karena kekuatan evol-nya yang ia dapatkan setahun silam ketika dirinya tengah berusaha mencari Rei yang menghilang.
Dan kejadian itupun terjadi. Tragedi dimana Elvina di culik dan di bawa ke sebuah tempat yang aneh. Di tempat itulah dirinya berubah dari manusia biasa menjadi seorang evolver dengan kekuatan super.
Tragedi itu mengubah nyaris seluruh DNA dalam tubuhnya, dan mengubah sistem genetiknya menjadi lebih sempurna hingga membuat manusia biasa seperti Elvina berubah menjadi manusia istimewa dengan kelebihan yang diluar batas wajar manusia biasa.
Ceklek!
Elvina membuka pintu ruangannya. Melangkah masuk dan menaruh barang-barang yang dibawanya ke atas meja.
Baru saja, ia hendak mendaratkan bokongnya di atas kursi kebesarannya. Suara ketukan pintu masuk lebih dulu menyita perhatian Elvina. Wanita itu menoleh ke arah datangnya suara. Diambang pintu, Elvina melihat seorang wanita yang tidak lain sahabatnya.
...***...