
...***...
"Dimana dia? Kenapa dia belum mengangkat panggilan dariku juga?" Dekis menatap telecosys nya. Sejak tadi, ia berusaha menghubungi Melinda yang entah kenapa mendadak tidak menjawab panggilan suaranya.
"Bukankah mereka membutuhkan tumpangan? Kalau begini, bisa-bisa mereka terlambat." Dekis menatap telecosys miliknya. Ia kembali berusaha menghubungi Melinda.
...*...
"Aku menemukan mereka! Aku berhasil menangkap sinyal dari laptop yang mereka bawa." Suara seorang lelaki terdengar di seberang sana.
"Benarkah? Secepatnya kirimkan lokasinya padaku agar aku bisa segera menangkapnya."
"Akan aku kirimkan dengan segera."
Wyman bergegas menyeting telecosys nya agar dengan mudah menangkap sinyal lokasi yang dikirimkan oleh timnya di markas LGE di London.
Tidak perlu waktu lama. Map pada telecosys nya telah menangkap lokasi yang di kirimkan oleh mereka.
"Mungkin tadi kalian berhasil lolos. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja!"
Wyman mengepalkan tangan. Ia segera beranjak dari tempatnya. Pergi dengan menggunakan kemampuannya guna sampai di tempat dimana Lucy dan yang lainnya bersembunyi.
Dia harus menangkap Lucy bagaimanapun caranya. Karena jika dia gagal, maka nama organisasinya akan semakin jeblok di mata tuannya.
...*...
"Ahh~" Melinda melenguh panjang ketika Andrich dengan ganasnya menghentakkan tubuhnya berirama. Pergerakan mereka bahkan sampai membuat suara vulgar yang mengisi seluruh ruangan.
Beruntung rumah persembunyian mereka terletak tidak terlalu berdekatan dengan pemukiman warga sekitar, jadi aman dan tenang.
Andrich mengangkat tubuh Melinda hingga wanita itu berada dalam posisi duduk di pangkuannya.
Melakukannya di sofa dengan posisi duduk. Melinda hanya bisa pasrah dan menikmati setiap permainan Andrich yang selalu membuatnya terbuai. Bagaimanapun, ia tidak pernah menyesal telah membuat keputusan dimana dia akan bertanggung jawab atas ulahnya.
Buktinya Melinda juga menikmati setiap permainan Andrich.
Melinda menggigit bibir bawahnya, sementara kedua tangannya meremas punggung lelaki itu dengan cukup kuat.
Di tengah situasi panas itu, suara nyari yang berasal dari telecosys menyita perhatiannya.
Andrich yang sibuk menggerakkan pinggulnya tak menghiraukan suara itu dan lebih memilih sibuk pada permainannya.
Melinda melirik telecosys nya.
Itu pasti Dekis. Sejak tadi telecosys ku tidak berhenti berbunyi. Kalau itu memang Dekis, maka aku harus mengangkat panggilan itu secepatnya, batin Melinda.
Melinda mengulurkan tangannya, meraih telecosys itu. Tapi belum sempat tangannya menyentuh benda itu, Andrich sudah lebih dulu membaringkan tubuhnya, mengubah gaya bercinta mereka.
Melinda terus berusaha hingga dia benar-benar berhasil meraih telecosys nya. Begitu berhasil, dia segera mengangkatnya.
"Melinda, kau dimana? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Kapalnya sudah siap dan sebentar lagi kita berangkat." Dekis berucap di seberang sana.
Melinda terdiam sejenak. Berusaha membuat suaranya senatural mungkin, tapi Andrich benar-benar tidak memberikannya kesempatan. Pria itu terus menghujamnya berulang kali dengan miliknya.
"Ngh…" Melinda menggigit pergelangan tangannya kuat-kuat.
"Melinda?" Dekis mulai merasa ada yang aneh darinya.
"Y… ya… ahh~" Melinda tanpa sengaja membuat situasinya terasa begitu jelas.
Dekis di seberang sana terkejut dengan suara aneh yang baru saja dikeluarkan wanita itu.
"Melinda? K… kau baik-baik saja? Kenapa suaramu terdengar aneh?"
"Aku baik-baik ngh~ ah~ hmph" secepatnya dia membekap mulutnya.
Untuk sesaat Dekis diam. Lelaki itu terkejut mendengarnya.
...***...