Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 203 - Tak pernah tahu



...***...


Dengan ragu, gadis itu—Lusia. Melangkah masuk ke dalam ruang perpustakaan yang kini dikunjungi oleh beberapa orang siswa yang hendak sekedar membaca atau meminjam buku untuk bahan tugas, seperti dirinya.


Ia berjalan menyusuri beberapa rak buku-buku yang tinggi menjulang melebihi tinggi dirinya.


Ada dua lantai ruang perpustakaan, dan keduanya diisi dengan rak dan buku-buku yang berderet memenuhi setiap ruangan.


Sama halnya seperti penampilan sekolahnya, isi perpustakaannya pun di susun dengan meniru gaya Eropa. Begitu rapi dan nyaman, apalagi dengan beberapa spot baca yang tak biasa membuat siapapun betah untuk berlama-lama di dalam sana.


Lebih baik aku mencari buku-bukunya lebih dulu setelah itu pergi mencari meja yang di tempati Rei, pikirnya.


Lusia berjalan diantara rak-rak tinggi yang menjulang di sekelilingnya. Setelah berhasil menemukan beberapa buku yang dicarinya, ia segera mencari keberadaan Rei yang duduk entah dimana.


Lusia terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Berjalan diantara beberapa meja yang berderet, sebagian meja itu diisi oleh beberapa orang siswa yang tengah membaca buku.


"Dari tadi aku tidak bisa menemukannya di manapun, dimana sebenarnya dia duduk?" Luisa memonolog.


Setelah mengecek di lantai pertama dan tidak menemukannya sama sekali, Lusia lalu memutuskan untuk pergi di lantai dua.


Ia menaiki tangga, berjalan beriringan bersama beberapa orang siswa lain yang juga hendak mencari buku yang mereka butuhkan.


Lusia kembali menyusuri rak-rak buku sampai kemudian langkahnya terhenti di rak yang berada tidak jauh dari tempat Rei terduduk.


Lusia diam membatu dengan kedua mata menatap ke arah sosok Rei yang berhasil ditangkapnya.



Deg, deg, deg…


Lusia merasakan jantungnya berdebar lebih kencang.


Rambut hitam pekat, kulit putih yang bercahaya ketika di sinari cahaya matahari, mata sipit dengan iris yang indah, shape wajah yang begitu tegas, dan tubuh tinggi yang proporsional dengan postur yang senantiasa tegap… dia begitu sempurna. Dia… bahkan lebih tampan daripada saat terakhir kali aku bertemu dengannya di SMP. Lusia terpesona menatap Rei yang kini hanya diam di kursi dekat jendela. Kedua mata lelaki itu terpejam, membiarkan matahari menyinari dirinya.


Aku tidak pernah tahu. Aku tidak pernah menyadari kalau perasaan itu masih ada. Lusia melangkah secara perlahan menuju arah dimana Rei terduduk.


Ia melangkah dengan sangat pelan, dengan kedua mata yang tak lepas dari sosoknya.


Memandangnya lekat tanpa berkedip. Semakin dekat. Semakin cepat pula jantungnya berdebar.


Tapi setelah aku sadar bahwa perasaan itu masih ada… apakah kali ini aku bisa meraihmu? Apakah aku akan bisa menggapai dirimu yang begitu indah seperti bintang yang bersinar di langit malam itu? Deru napas Lusia jadi tak karuan hanya karena melihat Rei.


Lusia menghentikan langkah kakinya tepat di kursi kosong dihadapan Rei.


Dia… semakin terlihat tampan dalam jarak sedekat ini, batinnya.


Rei membuka kedua matanya setelah sadar ada suara hati seseorang yang berbicara di dekatnya. Begitu ia membuka mata, sosok yang dilihatnya adalah Lusia. Gadis itu berdiri terpaku ditempatnya.


Mereka berdua beradu pandang dalam waktu yang cukup lama.


...***...