
...***...
"Aku kira, kau Rei," gumam William pelan. Elvina mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan William yang jelas di dengarnya.
"Apa maksudmu kau mengira aku ini Rei?"
"Rei hilang," bisik William.
"Kau bilang apa?" Elvina tak dapat mendengar suara William.
"Rei tidak ada di manapun, dia hilang!" William memperjelas kalimatnya.
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu. Aku baru saja pulang, karena hari ini aku ada latihan futsal dengan teman-temanku. Tapi begitu aku tiba, Rei tidak ada di manapun."
"Kau yakin? Kau sudah mencarinya di semua ruangan?"
"Sudah, dan dia tidak ada." William mengangguk pelan.
"Astaga. Bagaimana bisa? Lalu kemana dia?" Elvina mulai panik. Tak lama, Elvina bergegas pergi keluar dengan diikuti oleh William di belakangnya. Mereka pergi ke garasi untuk mengecek motor milik Rei.
Sampai di sana, mereka tak dapat menemukan motor milik Rei dimana pun.
"Motornya tidak ada. Itu artinya dia pergi."
"Apakah jangan-jangan… Rei kabur lagi?" William beradu pandang dengan Elvina.
"Coba kau cek pakaiannya di dalam lemari."
William mengangguk dan bergegas pergi menuju kamar Rei untuk mengecek pakaiannya. Tidak lama William kembali ke hadapan Elvina.
"Semua pakaiannya masih lengkap."
"Itu artinya, dia pergi tanpa membawa pakaiannya. Ayo kita cari di jalan-jalan sekitar sini, mungkin saja dia jalan-jalan karena bosan."
William dan Elvina bergegas pergi dari sana untuk mencari Rei yang tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Sekarang kau tidak akan bisa melarikan diri kemanapun!"
Atensi Rei beralih ke belakang, tepat ke arah dimana suara seorang pria di dengarnya tak jauh dari tempatnya berada.
Rei berbalik begitu mendapati salah satu evolver yang kini tiba dihadapannya.
"Ikutlah dengan kami. Kami hanya ingin berbicara beberapa hal denganmu, dan memastikan sesuatu," ujarnya sedikit melangkah.
Rei masih berusaha menahan sakitnya. Ia menatap tajam lelaki yang berusaha menangkapnya tersebut.
"Sudah aku bilang, aku takkan ikut dengan kalian!"
"Jangan membuat pilihan yang sulit, atau kau harus berhadapan dengan kami." Laki-laki itu mengangkat sebelah tangannya hingga kemampuannya muncul.
Rei menatapnya tajam. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membuka matanya. Tanpa ia ketahui, pupil matanya berubah biru.
Fokusnya tertuju pada bagian tubuh pria dihadapannya. Dalam seketika kobaran api berwarna biru menyala.
Pria itu tersentak kaget saat secara tiba-tiba kobaran api membakar bagian bahunya. Ia kelabakan berusaha untuk memadamkan api yang terus berkobar semakin besar.
"Argh! Apa ini? Kenapa bisa ada api. Arghh!" Pria itu terus bergerak, berjalan mundur sambil berusaha memadamkan api yang membakar sekujur tubuhnya.
Kakinya tiba-tiba tersandung hingga membuatnya jatuh dari atas gedung sana.
"Arghh!!" Pria itu berteriak kencang. Joe dan anak buahnya yang berada di bawah sana melongok kaget begitu melihat kobaran api biru melayang jatuh tepat dihadapan mereka.
"Itu Josh!" teriak salah satu anak buahnya.
"Apa?" Joe membulatkan matanya. Yang terbakar itu adalah salah satu anak buahnya yang ia perintahkan untuk memanjat naik dan menggiring Rei agar turun dari atas sana. Namun, diluar dugaan anak buahnya malah terbakar dan jatuh tanpa sebab yang jelas.
Belum sempat mereka semua bergerak membantunya, tubuh Josh lebih dulu menghantam tanah beraspal dengan tubuhnya yang gosong terbakar api. Darah mengalir keluar.
...***...