
...***...
"Apa hasilnya?" tanya Isyana yang tak berani melihat. Ia menatap suaminya yang hanya diam memandangi kertas yang berada dalam genggamannya.
Srakk!
Kertas itu jatuh ke lantai. Lepas dari genggaman Sandy. Raut wajahnya tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya tertulis di kertas itu.
"Kenapa? A… apa hasilnya?" Isyana semakin di buat penasaran.
"Hasilnya… Rei adalah…"
...*...
Samuel melangkah menghampiri ruang kerja Sandy. Ia hendak mengambil beberapa berkas yang dibutuhkannya di dalam sana.
Ia mendorong pintu itu perlahan hingga menampakkan bagian dalamnya. Kosong, tidak ada siapapun di dalam sana. Samuel tahu betul kalau papanya sedang berada di kantor untuk mengecek beberapa berkas yang harus diurusnya guna mengatasi beberapa masalah kantor yang harus mereka atasi.
Walaupun ini masih hari libur, tapi Sandy tidak ingin menunda untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi perusahaannya.
"Dimana papa menyimpan berkas-berkas itu?" Samuel memonolog. Ia berjalan menghampiri rak dan mencari beberapa berkas yang di carinya. Setelah mencari ke segala tempat, Samuel tak kunjung menemukan berkas-berkas yang dicarinya.
"Apakah mungkin di dalam laci?" Samuel menghampiri meja kerja milik papanya. Ia mengecek beberapa berkas di atas meja, setelah tak menemukan apa yang dicarinya. Ia memutuskan untuk mencari kunci untuk membuka laci mejanya.
Fokus Samuel beralih pada beberapa kertas yang ada di atas mejanya. Ia meraih kertas itu dan membacanya. Isinya adalah rekam jejak medis milik Rei—adiknya yang Sandy lakukan beberapa waktu lalu.
"Rei baik-baik saja? Tapi kenapa dia bersikap seolah-olah tidak mengenalku dan yang lain?" Samuel bergumam pelan. Otaknya mulai dipenuhi oleh berbagai pertanyaan mengenai Rei dan hasil rekam jejak medisnya yang mengatakan kalau Rei dalam keadaan baik-baik saja.
"Hanya ada dua kemungkinan dalam hal ini. Pertama, dia bukan Rei atau mungkin dia adalah orang lain yang menyamar sebagai Rei, dan kedua dia memang Rei, tapi berpura-pura amnesia. Aku harus memastikan semua ini." Samuel mengambil data-data tersebut lalu kembali fokus mencari kunci. Setelah menemukan berkas yang dicarinya, ia segera melangkah keluar dari dalam ruang kerja Sandy dan kembali ke ruang kerjanya.
Tiba di luar, perhatian Samuel disita oleh suara bising yang berasal dari arah pintu depan. Tepatnya di ruang tamu dimana ia mendengar suara Isyana dan Sandy yang tengah berdebat satu sama lain.
Samar-samar Samuel bisa mendengar apa yang sedang mereka perdebatan. Ia yang penasaran dengan apa yang terjadi lalu memutuskan untuk mengecek ke depan.
Samuel melangkah menuruni tangga. Begitu tiba di lantai dasar, Isyana sudah pergi meninggalkan ruang tengah dengan Sandy seorang diri di sana.
Samuel hendak menghampiri ayahnya untuk membicarakan beberapa hal.
"Pa, ada yang ingin aku bicarakan," tuturnya, mendekat.
"Nanti saja, papa sedang tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa." Sandy beranjak. Ia secara tak sengaja menabrak tubuh Samuel hingga membuat beberapa berkas di tangannya berjatuhan.
Sandy berbalik saat ia menyadari amplop berisi kertas hasil tes DNA miliknya jatuh.
Sandy membungkuk untuk mengambilnya, tapi Samuel lebih dulu meraih amplop tersebut dan membukanya.
"Samuel…."
...***...