Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 72 - Not a superhero



...***...


Elvina melongok melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Makanan yang diinginkannya sudah tersaji tepat dihadapannya hanya dalam satu kali gerakan tangan gadis itu.


"Terima kasih," kata Dorothy pada gadis itu.


"Senang bisa membantu," ujarnya sambil melangkah menuju meja yang semula ia duduki.


"Woah, apakah dia juga seorang evolver? Apa kekuatannya?" tanya William dengan raut wajah kagum.


"Ya, dia adalah salah satu evolver yang berhasil melarikan diri dari laboratorium sama seperti kami yang lainnya. Kekuatannya adalah mengubah setiap benda yang diinginkan menjadi makanan yang kalian bayangkan," jawab Kevin.


"Is this real?" Amanda memandangi makanan yang ada di atas piringnya. Yang ada dihadapannya adalah pancake yang begitu menggoda dengan dengan taburan selai dan berhiaskan strawberry diatasnya.


"Of course. Jika kau tidak percaya coba saja," sahut Kevin.


Amanda meraih garpu dan pisaunya, ia memotong pancake miliknya secara perlahan dan memakannya. Raut wajahnya berubah. Ia merekahkan senyuman begitu rasa manis dan tekstur lembut memanjakan lidahnya.


"Wah, ini benar-benar enak," tuturnya dengan bahasa Inggris.


"Sudah aku bilang. Ini nyata!" Kevin meraih alat makannya dan mulai makan. Pagi itu, Elvina dan yang lainnya menikmati waktu sarapan mereka bersama-sama.



Invisible Village, hanya sebuah desa terpencil yang berada di dekat pantai. Hanya dihuni oleh beberapa puluh orang saja yang tinggal di dalam rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu. Rumah-rumah di Invisible Village ini, hanya terdiri dari kamar-kamar saja yang berjejer satu sama lain. Rumahnya di susun membentuk sebuah persegi panjang yang bagian tengahnya sengaja di kosongkan. Di bagian tengah, tepatnya di tanah lapang itu, biasanya para penduduk di Invisible Village melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Ada meja makan besar lengkap dengan kursi yang terbuat dari kayu, lalu ada juga tempat lain yang menghadap ke arah pantai. Di sana terdapat beberapa batang pohon tumbang yang di susun mengitari api unggun. Setiap malam, mereka biasa menghabiskan waktunya sebelum tidur untuk menikmati malam di dekat api unggun sambil menatap gemerlap cahaya bintang atau hanya sekedar menatap hamparan laut dengan desir ombak yang tenang.


Walaupun merupakan desa terpencil, tapi mereka memiliki semua yang di butuhkan. Kamar mandi, alat makan modern, dan juga peralatan tidur yang nyaman.


"Here!" Amanda menyodorkan secangkir teh manis pada Elvina yang tengah duduk melamun di teras kamar tempat mereka menginap.


Elvina mendongak, ia meraih cangkir yang tersodor ke arahnya. "Thank you," ucapnya berterima kasih.


Amanda mengambil duduk di sebelah Elvina. Fokus keduanya kini tertuju pada beberapa orang evolver yang tengah duduk di lapangan seraya melatih kemampuan mereka masing-masing. William salah satunya, berbaur bersama orang-orang yang baru dikenalnya dan menghabiskan waktu bersama mereka.


"I can't believe it! Mereka mengubah manusia menjadi seorang superhero?" gumam Amanda yang pada akhirnya menumpahkan apa yang selama ini ingin ia lontarkan dari mulutnya, namun begitu sulit. Berulang kali Amanda dibuat takjub dengan apa yang dilihatnya. Manusia dengan kekuatan super, ia tidak pernah membayangkan sama sekali kalau hal itu akan ada dan nyata di dunia ini.


"Not a superhero, but an evolver," sahut Elvina tanpa menoleh. Amanda yang duduk di sampingnya lantas meneguk perlahan minumannya.


...***...