
...***...
Rei menghentikan permainannya sejenak sementara William lebih menggila menghajarnya di dalam video game yang sedang mereka mainkan.
Sudah seharian mereka berdiri di depan layar LED besar tempat mereka bermain game, dan setelah olahraga mereka. Keduanya belum juga beranjak dari tempat masing-masing.
Kenapa Elvina belum pulang juga? Bukankah ini sudah sangat larut? Apakah dia memiliki banyak pekerjaan? Rei membatin. Ia melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah sangat malam, bahkan Isyana saja sudah menelponnya dan memintanya untuk pulang karena ada yang harus mereka bicarakan.
Rei beralasan, ia ingin tetap di rumah William dan menemaninya hingga Elvina pulang.
"Yeay! Aku menang lagi!" William kegirangan saat dirinya berhasil mengalahkan Rei untuk yang kedua kalinya. Sedangkan Rei sudah mengalahkan William nyaris belasan kali selama seharian ini.
Rei beralih fokus padanya kemudian melirik layar televisi dihadapan mereka.
"Aku lelah," ujar Rei seraya menyandarkan bahunya pada sandaran sofa yang begitu empuk.
"Oh, ayolah! Aku baru mengalahkanmu dua kali, sedangkan kau sudah mengalahkan aku belasan kali. Kau sudah mau menyerah begitu saja? Aku masih belum puas mengalahkanmu!" William melirik Rei, ia merengek seperti bayi.
"Mataku sudah lelah. Lihat, matamu juga sudah mulai memerah." Rei menoleh padanya.
"Benarkah?" William bangun dari tempat duduknya, ia segera menghampiri cermin yang terletak tidak terlalu jauh dari tempatnya berada. "Bisa gawat kalau El sampai tahu aku bermain game hingga mataku merah seperti ini," gumam William yang bisa melihat dengan jelas matanya yang mulai memerah.
Dalam kasus ini, William memang memiliki mata yang cukup sensitif. Matanya mudah memerah kalau dirinya terlalu lama bermain dengan gadget, apalagi bermain video game seperti ini.
"Kalau begitu ayo kita berhenti." William mengalihkan pandangannya pada Rei.
"Memang itu yang sejak tadi aku inginkan. Omong-omong kenapa Elvina belum pulang? Apakah dia memiliki banyak pekerjaan?"
"Sudah biasa seperti ini. Bosnya terlalu sayang padanya sampai-sampai beberapa pekerjaan harus dia yang menangani."
"Itu berarti ini bukan yang pertama kalinya, dan kau sudah sering ditinggalkan sendirian di rumah?"
"Pizza?"
"Iya. Tunggu di sini, aku akan memesan pizza untuk kita." William berjalan menghampiri meja tempat dimana ia menaruh ponselnya. Ia segera memesan pizza untuk mereka nikmati.
...*...
Melinda melangkah turun dari kapal yang mengantarkannya hingga tiba di dermaga dimana ia akan menemui profesor di laboratoriumnya.
"Terima kasih karena sudah memberikanku tumpangan." Melinda menepuk pelan pundak pria yang merupakan kapten kapal yang mengemudikan kapal dan mengantarkannya hingga tiba di sana.
"Sama-sama, lain kali kalau kau butuh tumpangan, temui saja aku."
"Iya," sahutnya. Wanita berpakaian seksi itu melangkah meninggalkannya seorang diri.
Kapten kapal yang masih sangat muda itu tersenyum menatap kepergian Melinda. "Dia memang gadis yang luar biasa," gumamnya pelan.
Salah satu awak kapalnya, berjalan menghampirinya. Ia menepuk pelan pundak pria si kapten seraya menatapnya lekat. Si kapten menoleh padanya yang baru saja tiba.
"Pak, resleting anda belum dinaikkan," ucapnya santai kemudian berlalu meninggalkannya.
Pria itu tersentak kaget mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulutnya. Spontan ia mengecek bagian bawahnya, dan benar saja.
Bergegas ia menaikkan resleting celananya yang sempat turun.
...***...