Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 309 - Tuan ingin bertemu



...***...


"Baik, cukup sekian untuk meeting kita hari ini. Aku harap kita bisa mengerjakan proyek kali ini dengan semaksimal mungkin." Nils beranjak bangun dari tempat duduknya, bersamaan dengan itu semua orang bangun dari duduk mereka dan mulai berhamburan keluar dari dalam ruangan tersebut.


Nils melangkah menyusuri koridor agar bisa tiba di lift dan kembali ke ruangannya, masih ada pekerjaan lain yang harus ia lakukan.


Tidak beberapa lama menunggu, ia akhirnya tiba di lift dan masuk di dalamnya. Lift-nya kosong, dan ia bisa dengan lebih cepat tiba di lantai dimana ruang kerjanya berada.


"Pak, Nils!" Seorang wanita yang menjadi sekretarisnya itu memanggilnya begitu ia tiba di depan ruang kerjanya.


"Ada apa?"


"Ada beberapa orang yang mencari bapak di lobi, haruskah saya mempersilahkan mereka untuk naik?"


"Siapa?"


"Namanya Ron, beliau bilang kalau beliau adalah sahabat bapak."


"Ron?" Nils mengerutkan kening, ia tidak mengerti kenapa Ron bisa mencarinya. Memang benar, ia kenal dengan lelaki yang merupakan evolver penjaga itu.


"Ya, aku kenal dengannya," jawabnya.


"Lalu haruskah saya minta beliau untuk naik dan temui bapak?"


"Tidak perlu. Biar aku saja yang turun dan menemuinya sendiri."


"Baik, akan saya sampaikan."


"Omong-omong, apakah jadwalku setelah ini kosong? Apakah akan ada meeting lain yang aku lupakan?"


"Kebetulan setelah ini, jadwal bapak kosong. Tidak ada meeting lain yang harus bapak hadiri."


"Bagus. Kalau saya tidak kembali dalam waktu dekat, tolong handle semuanya, ya."


"Baik, pak."


Nils berbalik arah kembali ke lift untuk menemui Ron di lobi kantornya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian datang menemuiku? Tidak seperti biasanya."


"Tuan ingin bertemu denganmu, begitu juga dengan profesor. Kau bisa ikut dengan kami sebentar, kan?" ujar Ron.


"Tentu. Kalau begitu ayo pergi." Nils beranjak meninggalkan kantornya, pergi bersama Ron dan anak buahnya untuk menemui profesor dan tuannya di markas.



...*...


Pricilla mengendarai mobilnya menuju sebuah penginapan terpencil tempat dimana ia meninggalkan lelaki yang dianggapnya aneh, kemarin.


Ia menghentikan mesin mobilnya di depan penginapan itu dan segera mencari lelaki yang kemarin ia temui.


"Kamar nomor empat ratus empat," gumamnya pelan mengingat-ingat kembali nomor kamar yang di beritahukan oleh petugas yang berada di bagian penerima tamu.


Ia kini berjalan menyusuri koridor menuju kamar yang di maksudnya sampai akhirnya ia tiba di depan kamar dengan nomor yang di maksud.


Baiklah, ayo ketuk dan tanyakan langsung padanya mengenai apa yang ingin aku tanyakan, batinnya meyakinkan diri. Tangannya perlahan terangkat, ia mengetuk pelan pintu kamar Derek.


Tok! Tok! Tok!


Pintunya di ketuk. Sesaat hening, tidak ada jawaban sama sekali dari belakang kamar sana.


"Kenapa tidak ada yang membukakan pintu? Apakah dia sedang pergi?" Pricilla memonolog. Ia kembali mengetuk pintu berusaha untuk memastikan lelaki itu benar-benar ada atau tidak.


"Halo? Permisi?" Ia mulai berteriak memanggilnya.


"Derek!" panggil Pricilla lagi, menyerukan namanya. Ia tahu nama lelaki itu, setelah ia bertanya pada bagian penerima tamu mengenai lelaki yang kemarin diantarnya memesan kamar atas nama siapa.


"Permisi!" Pricilla kembali mengetuk pintu itu dengan suara yang lebih kencang dari sebelumnya.


...***...