
...***...
Ciiittt…
Leon tiba-tiba menginjak pedal rem. Membuat ucapan Elvina terpotong. Keduanya spontan mendongak menatap ke arah depan, mencari sebab kenapa Leon mendadak menginjak pedal rem.
Di depan mobil mereka, seorang lelaki berdiri sekitar satu meter dari arah mobilnya.
"Siapa pria itu? Kenapa dia tiba-tiba berhenti di depan jalan seperti itu? Apakah dia ingin mati?!" gerutu Leon kesal.
Elvina terdiam menatap pada sosok lelaki yang berdiri di sana. Ia membulatkan mata saat sadar siapa lelaki itu.
Leon sibuk melepaskan seat belt yang terpasang pada tubuhnya. "Tunggu di sini sebentar, biar aku marahi dia!"
"Jangan!" Elvina menahan langkahnya.
"Hanya sebentar, kau tunggu saja."
Leon membuka pintu, melangkah keluar dari dalam mobil.
Sial! Aku harus menghentikannya, jangan sampai dia melukai Leon. Elvina berusaha melepaskan seat belt nya.
Leon keluar hendak memarahi pria yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Belum sempat satu langkah ia bergerak, pria itu—Joe lebih dulu menghempaskan tangannya hingga membuat waktu berhenti berputar.
Semua membeku dalam posisinya masing-masing kecuali Joe dan Elvina yang masih berusaha melepaskan diri.
Leon…. Elvina menoleh ke arah pria yang kini membatu dalam posisinya.
Joe mengangkat tangannya, mengarahkannya pada Elvina. Pada telapak tangannya, percikan listrik mulai bermunculan.
Joe menghentakkan tangannya hingga membuat aliran listrik itu menyerang Elvina.
Elvina yang sejak tadi sadar akan adanya bahaya, spontan mendorong pintu begitu seat belt nya terlepas. Ia melompat keluar dari dalam mobil.
Tubuhnya berguling di tanah beraspal yang kasar, tubuhnya bahkan sampai lecet akibat gesekan yang terjadi.
Bergegas Elvina bangun sebelum Joe menyerangnya lagi. "Aku benci dengan kekalahan," ujar Joe seraya menghela napasnya kasar.
"Mungkin terakhir kali aku gagal. Tapi kali ini, aku akan pastikan aku berhasil menangkapmu!"
Bzzzttt!
Elvina melakukan salto, bergerak mundur hingga menciptakan jarak beberapa meter dengannya.
Sekarang ia berdiri di sana. "Kau tidak akan bisa menangkapku semudah itu!" Elvina memasang kuda-kuda dengan kedua tangannya yang siap menghadapi setiap serangan Joe.
"Benarkah?" Joe tersenyum mengejek.
"Aku sudah berulang kali menang darimu, dan terbukti kalau aku memang tidak akan bisa kau tangkap dengan semudah itu."
"Mungkin kau memang benar, aku sudah kalah berulang kali dan tidak akan mudah bagiku untuk langsung menang menghadapimu. Tapi, aku ingin tahu… bagaimana reaksimu jika aku… melukai orang yang kau sayangi." Joe beralih fokus pada Leon.
Leon… Elvina membulatkan mata.
"Jangan berani-beraninya kau sentuh dia! Berani kau sentuh sedikit saja, kau akan berhadapan denganku!" tukas Elvina.
"Jadi kau tidak ingin kekasihmu ini terluka?"
"Dia bukan…" Elvina menggantung ucapannya, ia pikir tidak ada gunanya menjelaskan hal seperti itu padanya.
Bzzzttt!
Joe hampir melukai Leon dengan serangan mendadaknya. Beruntung Elvina siaga dan berhasil melindungi Leon.
"Dasar pengecut! Jangan libatkan orang tak bersalah dalam urusan kita!"
"Tapi, jika itu satu-satunya cara untuk membuatmu tunduk dan mengikuti perintahku, kenapa tidak?"
"Tidak akan aku biarkan kau!" Elvina mengangkat sebelah tangannya, dan menggerakkannya cepat, menyerang Joe.
Bugh!
Serangannya mengenai tepat ke arah Joe. Tubuh Joe terhempas cukup jauh dari posisinya.
"Argh…" Ia meringis memegangi bagian tubuhnya yang terluka akibat serangannya.
...***...