
...***...
Isyana berjongkok di hadapan Shella, mensejajarkan pandangannya. "Kita bicara nanti, sekarang lebih baik kau ganti pakaianmu dulu setelah itu kembali kemari. Oke?" tuturnya lembut seraya mengusap pelan puncak kepalanya. Istana tersenyum ke arah Shella.
Entah kenapa… tapi melihat pemandangan ini, membuat hatiku sakit tanpa sebab, batin Rei yang kembali merasakan sakit di hatinya. Ia memegangi dadanya.
Shella mengangguk, ia bergerak melepaskan pelukannya dari Rei dan melangkah menaiki tangga.
Rei hanya diam dan menatap anak itu yang terus melangkah menjauh dari tempatnya.
"Kau pasti bingung, 'kan?" Isyana menoleh pada Rei.
"Dia Shella, adikmu. Dia baru duduk di bangku sekolah dasar kelas satu," jelas Isyana. Rei hanya diam tanpa merespon.
Fokus Rei beralih pada meja makan besar yang kini tampak dipenuhi oleh berbagai hidangan yang begitu lengkap dan memenuhi hampir setiap ruang di atas meja, seperti akan ada sebuah perjamuan.
"Hm… apakah kalian biasa makan dengan hidangan sebanyak ini?" Rei menatap Isyana bingung. Ia tampak ragu-ragu harus memanggilnya dengan sebutan apa.
Isyana menepuk pundak Rei pelan. "Panggil aku mama. Bagaimana pun kau adalah anakku, walaupun kau sudah menghilang setahun lamanya dan kau mengalami amnesia, tapi kau tetap anakku," ujarnya.
"B… baik, m… mama," ucap Rei terbata. Tidak tahu ada apa dengan dirinya, tapi lidahnya benar-benar terasa kelu dan rasanya sangat berat untuk mengucapkan kata 'mama' saja.
"Karena kau sudah pulang, mama meminta kakak-kakakmu untuk datang dan makan siang bersama. Kita akan berkumpul untuk merayakan kembalinya kau." Isyana menjelaskan.
"Kakak?" ulang Rei.
"Ya, Samuel dan Stephanie. Mereka kakakmu."
"Oh ya, mama harus mengecek adikmu dulu. Dia selalu tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Mama harus bergegas sebelum dia mulai teriak-teriak. Lebih baik sekarang kau duduk dan tunggu di sini, kakak-kakakmu sebentar lagi pasti sampai." Isyana pergi meninggalkan Rei di ruang makan.
Rei mengambil duduk di salah satu kursi yang ada. Ia terdiam sambil menatap semua makanan yang terus berdatangan dari dapur yang di siapkan bi Ella sang asisten rumah tangga di rumahnya.
...*...
"Menurut informasi yang aku dapat, dia berada di sini." Wanita itu tersenyum sembari menatap layar hologram yang tampak pada telecosys yang terpasang pada pergelangan tangan kirinya.
Layar hologram itu menampakkan peta menuju tempat targetnya berada. Ia beralih fokus pada pintu masuk restoran yang tampak ramai tersebut.
"Waktunya bergerak."
Melinda melangkah menuju pintu masuk. Dengan kekuatan evol yang dimiliknya, ia mengubah penampilannya.
Rambutnya memendek dan pakaian yang ia kenakan seketika berubah. Ia mengenakan pakaian yang tampak berbaur dengan orang-orang lain disekitarnya.
Melinda adalah evolver penjaga dengan kemampuan berkamuflase, hal itu membuatnya mampu mengubah penampilannya sesuai dengan keinginannya. Ia bisa menjadi tidak terlihat dan tampak berbaur dengan lingkungan layaknya bunglon. Selain itu, yang membuatnya istimewa, ia bisa berubah penampilan dan umurnya. Bisa menjadi orang tua, lansia, wanita dewasa, remaja, sampai anak-anak.
Tiba di dalam restoran, Melinda terdiam sejenak. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling berusaha mencari keberadaan Elvina yang merupakan targetnya.
"Dimana dia?"
...***...