
...***...
"Woah, siapa mereka? Auranya benar-benar menakutkan," gumam Heru yang masih tercengang.
"Aku tahu lelaki jangkung itu. Namanya Marcell, orangnya sendiri sejak SMP memang cukup populer karena dia adalah salah satu lelaki yang keren yang juga jadi incaran banyak perempuan di sekolahku dulu. Dia itu kalau tidak salah adalah saudaranya Rei," jelas Gloria di sampingnya.
"Benarkah? Aku baru tahu. Lalu siapa perempuan yang sebelumnya?"
"Entahlah, aku serasa pernah melihatnya. Tapi dimana, ya…?" Gloria mengerutkan kening berusaha mengingat-ingat kembali gadis yang pertama datang.
"Oh! Aku baru ingat. Namanya Miranda, dia dari kelas dua belas."
"Kelas dua belas?"
"Ya. Saat SMP dulu, salah satu temanku pernah satu klub beladiri dengannya. Dia adalah gadis yang luar biasa hebat dalam beladiri apalagi taekwondo. Kalau tidak salah menurut yang aku dengar, Rei dan dia sangat dekat sejak kecil. Mereka bahkan pernah belajar beladiri bersama."
"Oh… begitu rupanya. Sepertinya mereka sangat menyayangi Rei, sampai-sampai mereka ikut turun tangan dalam menghadapi rumor ini."
"Aku bangga dengan hubungan mereka." Gloria tersenyum simpul.
...*...
"L… Lusia?" Wajah Fandy berubah pucat saat mendapati gadis itu tiba di sana.
Apakah dia mendengarkan semua pembicaraan kita? Bagaimana ini? Bisa-bisa dia membenciku kalau dia tahu bahwa aku berusaha mencelakai Rei, batin Fandy.
"Apa yang kalian lakukan?!" Lusia menatap Rei dan Fandy bergantian dengan mata berkaca-kaca.
"L… Lusia… aku bisa jelaskan semuanya. Tolong dengarkan penjelasnku." Fandy terbata.
"Aku tidak ingin bicara denganmu! Bisa kau tinggalkan aku dengan Rei?" Lusia menekan kalimatnya. Menatap penuh emosi pada Fandy.
"Ta… tapi, Lusia… biarkan aku menjelaskan…"
"B… baiklah, aku akan pergi." Fandy dengan wajah murung beranjak meninggalkan Rei dan Lusia berdua di sana.
Sepeninggalan Fandy. Lusia menatap Rei yang kini berdiri di hadapannya.
Plakk!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kirinya. Wajah putihnya berubah memerah akibat tamparan yang Lusia berikan.
"Apa itu benar?" Lusia menatap Rei dengan raut wajah kecewa. "Apa yang tertulis di artikel itu benar?!"
"Kau penyuka sesama jenis?!" Lusia meluap-luap.
Rei hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Ia kecewa dengan Lusia yang ternyata percaya begitu saja dengan rumor yang beredar. Rumor yang belum tentu kebenarannya.
"Rei! Jawab aku! Tatap aku! Katakan apakah itu benar?!" Lusia menuntut penjelasan. Namun lagi-lagi lelaki itu hanya diam dan membiarkan dirinya meluapkan seluruh emosinya.
Air matanya mulai mengucur membasahi pipinya. Lusia memukul dada Rei dengan kedua tangannya keras-keras.
Memukulnya berulang kali hingga Rei terdorong dan berakhir di dinding yang menahan langkahnya.
"Katakan padaku! Jangan hanya diam saja?!" pekik Lusia yang kembali menepuk dadanya keras-keras. Lusia mulai menangis, pundaknya bergetar.
"A… aku harap semua yang mereka katakan itu tidak benar," bisik Lusia yang kemudian menenggelamkan kepalanya di dada bidang Rei dan mulai menangis. Tangannya terus bergerak memukul-mukul Rei dengan tempo yang lebih lambat dari sebelumnya.
Rei menghela napasnya berat, berusaha melonggarkan rasa sesak yang menghampiri dadanya.
"Aku kecewa ternyata kau percaya pada berita yang belum tentu kebenarannya," lirih Rei.
Lusia mendongak menatap wajah tampannya yang kini berpaling ke arah lain. Kedua mata Lusia masih berlinang air mata.
"Itu tidak benar, kan?"
...***...