
...***...
"Bagaimana kalau ada yang dengar!" Elvina melotot padanya.
"Memangnya kenapa kalau ada yang dengar?" Leon tersenyum ke arahnya. Ia lalu memeluk pinggang ramping Elvina erat sembari memejamkan mata, bersandar padanya.
"Lagipula kau adalah milikku," gumamnya pelan. Elvina kelabakan sendiri jadinya.
"L… lepaskan aku, nanti ada yang lihat!" Elvina mendorong bahu Leon berulang kali berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Sialnya usaha Elvina membebaskan diri gagal, karena Leon yang memeluknya terlalu erat.
"Leon, astaga, lepaskan!" Elvina mendorongnya lagi.
"Aku tidak mau. Biarkan aku seperti ini sebentar saja," lirihnya.
"Nanti sekretarismu melihatnya. Aku tidak ingin kalau sampai ada masalah atau gosip tentangku beredar di kantor."
Leon meraih sesuatu di atas mejanya. Meraih remote kecil. Ia kemudian menekan satu tombol di sana yang dalam sekejap membuat tirai otomatis di ruangannya tertutup rapat.
Elvina melongok atas perbuatan kekasihnya.
"Astaga, apa yang kau lakukan! Kau ingin semua orang salah paham? Nanti semua orang berpikir yang tidak-tidak tentang kita. Bagaimana kalau mereka sampai berpikiran kalau kita sedang melakukan sesuatu?" Elvina makin panik.
"Memangnya sejak tadi kita tidak melakukan sesuatu?" Leon menjawab acuh dan mengeratkan pelukannya.
Wajah Elvina semakin memanas. Kalimat Leon berhasil membuatnya kehabisan kata-kata.
...*...
Leon tersenyum simpul melihat Elvina yang sedang sibuk melahap makanannya di sana.
"Apakah kau sengaja makan seperti ini agar aku mengelap bibirmu?" Leon mengulurkan tangannya saat menyadari wanita itu makan dengan sedikit berantakan.
Elvina tertegun. Leon mengelap bibirnya, membersihkan ujung bibir Elvina.
Saat ini mereka berada di restoran, sedang menikmati makan siang bersama.
Leon hanya terkekeh pelan menanggapi kalimatnya.
"Omong-omong aku ingin bertanya. Siapa sebenarnya orang-orang yang keluar dari ruangan kerjamu tadi?"
"Dia adalah orang-orang yang sudah berusaha mengusik kehidupan calon adik iparku." Leon melahap makanannya.
"Apa? Maksudmu, Will?" tanya Elvina dengan wajah terkejut.
"Iya."
"Apa yang sudah William lakukan sampai harus bermasalah dengan mereka?" Elvina kaget.
"Bukan apa-apa. Hanya ada sebuah kesalahpahaman antara William dan anaknya. Tapi, anaknya itu meminta bantuan ayahnya. Mereka bahkan mengancam William, maka dari itu aku tidak bisa tinggal. Mana mungkin aku membiarkan calon adik iparku di ganggu oleh orang lain, apalagi sampai diancam."
"Begitu rupanya. Terima kasih karena sudah mau repot membantu Will."
"Tidak. Aku tidak merasa repot sama sekali, aku justru senang karena bisa melindungi calon adik iparku." Leon tersenyum simpul.
"Kau terus saja menyebutnya dengan sebutan calon adik ipar."
"Memangnya kenapa? Toh dia benar-benar akan menjadi adik iparku nanti 'kan?"
"Apa kau serius dengan hubungan kita?"
"Kau meragukan keseriusanku?" Leon menatapnya tertegun, sudah dua kali ia mendengar pertanyaan itu terlontar. Pertama dari William dan yang kedua, kali ini dari Elvina.
"Bukan begitu, maksudku… aku tidak berpikiran hubungan kita akan sejauh itu. Ya… kau tahu? Sampai menikah."
"Memangnya kau tidak berpikir untuk menikah denganku? Apa kau berniat untuk mengakhiri hubungan kita dan menjalin hubungan dengan pria lain?" Leon mengubah air wajahnya, tak percaya dengan apa yang di ucapkan Elvina.
"Tidak. Bukan begitu, dengarkan dulu."
...***...