
...***...
Benar! Mungkin aku bisa menggunakan kekuatan yang aku miliki, batinnya. Elvina memfokuskan dirinya pada jemarinya. Ia memusatkan seluruh energi pada kedua jarinya.
"Lebih baik aku mencoba sedikit saja menggunakan kekuatanku. Kalau aku menggunakannya terlalu besar, bisa-bisa semua penjaga sadar aku berhasil keluar," bisiknya pelan.
Elvina merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia berusaha fokus memberikan energinya ke kedua jarinya itu. Perlahan percikan listrik muncul, bersamaan dengan itu kekuatannya mulai menampakkan wujudnya.
Elvina menggerakkan tangannya ke arah layar hologram tadi, merusak jaringan sistem yang dalam seketika membuat pintunya terbuka.
Elvina bergegas melangkah masuk saat pintu itu terbuka. Di dalam, ia segera menghampiri tempat dimana William terbaring.
"Will." Elvina menangis, ia memeluk adiknya yang terbaring dalam posisi terikat di atas meja operasi. Ia segera berusaha untuk membuka besi yang mengikat tubuh adiknya.
Elvina menghampiri meja yang ada, menyapu udara yang seketika menampakkan layar hologram yang sama seperti yang ada di ruangan isolasinya. Tepat ketika Elvina hendak memencet tombol untuk membuka besi pengikat pada tubuh William, alarm keamanan berbunyi nyaring membuatnya tersentak kaget. Bersamaan dengan itu, sekelompok Moscout berterbangan menghampiri dirinya.
Elvina membulatkan kedua matanya menatap robot kecil yang baru pertama kali ia lihat.
Apa ini? Apakah jangan-jangan selain robot android yang berjaga dan para evolver, mereka juga menggunakan robot super mini seperti ini? pikir Elvina.
Sial! Kenapa aku tidak pernah tahu sebelumnya?! Elvina menoleh ke arah William yang masih terbaring. Remaja itu membuka kedua matanya begitu mendengar suara nyaring yang memekakkan telinga.
"Ada apa ini? Kenapa begitu berisik," gumam William sambil mengedarkan pandangannya. Elvina yang mendengarnya bangun, segera menghampiri William.
"El…" William membulatkan kedua matanya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Irisnya mulai berkaca-kaca, ia hampir menangis melihat kakaknya masih hidup dan berdiri tepat dihadapannya dengan keadaan baik-baik saja.
Aku harus bergegas, robot android dan para evolver penjaga, pasti sedang bergerak menuju kemari, batin Elvina.
"Aku akan berusaha untuk membebaskanmu," katanya. Elvina mengangkat kedua tangannya, Medan gaya itu kembali menyelimuti kedua telapak tangannya. Dalam satu kali hentakan, besi-besi yang mengikat tubuh William seketika terbuka.
Elvina membantu William untuk bangun. William cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya, ia tak dapat berkata-kata. Namun perhatiannya lebih dulu teralihkan oleh Elvina yang kemudian memeluknya erat seraya menangis haru, saat tahu William dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku benar-benar lega tahu kau baik-baik saja," katanya dengan suara yang sedikit tertahan menahan tangis.
"Aku juga benar-benar senang melihat kau lagi, aku benar-benar cemas karena kita sudah lama tidak bertemu. Aku takut terjadi sesuatu denganmu." William membalas seraya menangis. Ia mengeratkan pelukannya pada Elvina.
"Selama ini aku baik-baik saja," sahut Elvina yang kemudian melerai pelukan mereka saat telinganya mendengar suara dari sesuatu.
"Tidak ada waktu untuk ini. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini," ujarnya. William mengangguk pelan. Ia lantas turun dari ranjang tidurnya. Mereka berdua segera berlari menuju pintu keluar. Elvina mendadak menghentakkan langkah kakinya saat ia ingat melupakan sesuatu.
Elvina menoleh ke belakang, menatap para robot Moscout yang berterbangan di udara.
...***...