
...***...
Aku sudah tidak kuat lagi…
Rei merasakan napasnya semakin lama semakin terasa sesak. Membuatnya semakin kesulitan untuk bernapas.
"Tuan…" Di tengah rasa sakitnya, Rei seolah mendengar suara Louis memanggil namanya.
Samar-samar, Rei bisa melihat wajah Louis yang kini sedang menatapnya dengan raut wajah cemas. Air mata membasahi wajah lelaki itu.
"Bertahanlah…" Louis berusaha menguatkan Rei.
"Louis…" Rei terdiam memandangi Rei yang kini sedang sangat mencemaskan dirinya.
"Aku akan membantumu untuk pulih, biar aku gunakan kekuatanku untuk menyembuhkanmu…" Louis memegangi luka di tubuh Rei, berusaha menggunakan kekuatannya untuk memulihkan Rei.
Sialnya, usaha Louis tak membuahkan hasil. Seberapa keras pun dia mencoba, luka di tubuh Rei sama sekali tidak bisa dia sembuhkan.
"A-apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak bisa menyembuhkan luka tuan?" Louis mencobanya sekali lagi. Tapi tetap tidak berhasil.
Ia semakin panik, dan air matanya semakin membanjir wajah lelaki albino itu.
"Louis…" panggil Rei dengan suara lirih. Panggilannya membuat perhatian Louis beralih pada lelaki itu. Mereka beradu tatap satu sama lain.
"Ya, tuan. Ini aku…"
"Kau tidak pernah meninggalkanku kan?"
"Aku tidak pernah meninggalkan tuan. Aku akan selalu ada bersama tuan, dan menemani tuan," ujar Louis dengan suara bergetar.
"S-sudah aku duga…" Rei tersenyum sambil menahan rasa sakit.
"T-tadinya aku pikir kau akan meninggalkanku sama seperti yang lainnya. Ta-tapi…, saat momen-momen terakhir aku sadar. Ketika aku melihatmu secara samar-samar, dan aku berulang kali tidak bisa melihatmu…"
"…Sebenarnya, kau tidak hilang atau pergi. K-kau selalu ada di sisiku, hanya saja aku yang tidak bisa melihatmu…"
"…Apakah kau tahu? Sebenarnya kekuatanmu melemah karena aku terluka. Kau tidak akan bisa menyembuhkan ku atau menolongku karena aku mulai kehilangan dirimu dari ingatanku."
"A-apa maksud tuan?" Louis tidak mengerti sama sekali.
Air mata Rei semakin membasahi wajahnya. Lelaki itu masih berusaha menahan rasa sakit pada tubuhnya dan bertahan. Ia tidak ingin melewatkan momen-momen yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya untuknya dengan Louis.
"Obat mereka. Serum yang mereka berikan padaku…, sepertinya menghapus sebagian ingatanku. Itulah yang membuatku kenapa sejak tadi tidak bisa melihatmu. Saat aku berusaha mengingatmu, aku tidak bisa mengingat apa-apa. Aku hanya bisa mengingat namamu…"
"…Itu juga alasan kenapa kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu. Karena sebagian jiwamu hilang."
"Tidak! Tidak mungkin… bertahanlah tuan! Aku akan berusaha menyembuhkanmu…" Louis berulang kali mengusap air matanya dengan tangannya. Setelah itu ia berusaha untuk menggunakan kekuatannya guna menyembuhkan Rei.
"Louis… dengarkan aku," gumam Rei dengan suara lirih. "Aku sudah tidak tahan lagi. Aku rasa, aku tidak akan bertahan lama."
"Tidak! Jangan bicara seperti itu. Tuan harus bertahan."
"Kau tidak tahu, rasanya begitu sakit… tubuhku tidak mungkin bisa bertahan lebih lama lagi. Maka dari itu, dengarkan aku."
Louis memeluk Rei erat. Ia benar-benar tidak tahan melihat Rei yang seperti ini. Louis terus berusaha menahan Rei agar tidak membicarakan hal yang tidak ingin di dengarnya. Tapi Rei tetap saja mengatakannya.
"Aku ingin meminta sesuatu darimu. Anggap saja sebagai permintaan terakhirku…"
"Apa yang tuan inginkan?"
"Aku ingin mengucapkan terima kasih karena karena kau…"
...***...