Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 248 - Mengantar pulang



...***...


"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Tapi, bagaimana denganmu? Apa yang kau berhasil mengalahkan mereka?"


"Aku gagal dan aku hampir dibawa oleh mereka. Tapi beruntung, Rei datang di saat yang tepat, dan dia membawaku ke ruang olahraga hingga aku siuman."


"Rei? Tapi, Rei juga datang untuk membantuku."


"Benarkah?"


"Apakah mungkin dia menyelamatkanmu lebih dulu, baru datang membantuku?"


"Sepertinya begitu."


"Tapi ada kata-kata darinya yang aneh."


"Kata-kata yang aneh seperti apa?"


"Yang jelas ucapannya aneh, dan dia meminta kita berkumpul untuk membahas ini. Rei akan datang kemari."


"Benarkah?"  William tersenyum saat mendengar Rei akan datang ke rumah mereka. Sudah lama semenjak terakhir kali Rei berkunjung.


Elvina hanya membalas dengan anggukan kepala.



...*...


Rei menghentikan motornya di depan rumah Lusia yang terlihat tak kalah besar dan mewahnya seperti rumahnya.


Lusia turun dari motor dan melepaskan helm yang terpasang di kepalanya.


"Terima kasih."


"Ya."


Lusia berbalik. Melangkah dengan kepala tertunduk tak ingin bertatapan dengan Rei. Setiap kali menatap wajahnya, ia pasti akan selalu teringat akan kejadian di ruang UKS.


Gadis itu membuka gerbang, berjalan masuk menuju rumahnya dan menghilang di balik pintu masuk.


Rei terdiam memandang kepergiannya. Untuk sesaat ia menatap ke arah dimana gadis itu pergi.


Apakah mungkin aku juga menyukainya? pikir Rei. Ia memegangi dadanya yang entah kenapa sejak tadi terus berdebat hebat.


...*...


Blam!


Lusia menutup pintu kamarnya dengan sedikit kasar. Ia berdiri sejenak sambil bersandar pada pintu, sebelum akhirnya melemparkan tas ke sembarang arah dan berlari menuju ranjang tidurnya.


Lusia melompat naik ke atas ranjang tidurnya. Menenggelamkan kepalanya pada bantal di sana.


Ia benar-benar malu, wajahnya sungguh terasa panas. Ia tidak bisa melupakan kejadian yang di alaminya di UKS.


Lusia berbalik, ia menengadah menatap langit-langit kamarnya yang bercat putih polos.


Lusia senang bukan kepalang. Tangannya bergerak menyentuh bibirnya yang tersenyum setiap kali memikirkan apa yang terjadi.


"Apakah itu artinya… dia juga menyukaiku? Kyaa!!" Lusia menendang-nendang udara. Bergerak seperti bayi yang tidak bisa diam.


...*...


Rei menghentikan mobil di depan rumah Elvina. Menemui kedua sepupunya di ruang tengah, lalu menjelaskan apa yang terjadi ketika ia hendak membantu mereka.


Elvina dan William kaget dengan ucapannya. Mereka tak menyangka kalau ternyata kekuatan yang Rei miliki bukan hanya sekedar yang mereka tahu.


Melainkan ada kekuatan lain, yang baru muncul setelah mereka mengalami kejadian lain.


"Aku semakin tidak mengerti kenapa kau bisa memiliki banyak kekuatan?" Elvina bertanya-tanya.


"Aku juga tidak mengerti."


"Ini semua terasa tidak masuk akal." William tak mengerti, sama seperti Elvina dan Rei, tentang kenapa dia bisa memiliki lebih dari satu kemampuan.


"Aku sudah berusaha bertanya pada Louis. Tapi dia bilang kalau aku akan tahu jika saatnya sudah tiba," ujar Rei.


"Jika saatnya tiba?" Elvina mengulang, Rei hanya mengangguk sebagai jawaban. "Sepertinya ada yang coba dia sembunyikan darimu, Rei."


"Aku rasa memang begitu, dan sepertinya dia berusaha menyembunyikan hal itu untuk melindungiku juga. Walaupun aku tidak tahu alasan pastinya kenapa dia harus melindungiku."


"Ya, sepertinya begitu," sahutnya.


...***...