Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 139 - Berakhir dalam cengkramanku!



...***...


"Ternyata walaupun kau kehilangan ingatanmu, tapi kau tetap memiliki kebiasaan yang sama." Elvina tiba di dalam kamarnya.


Rei yang terduduk di sofa bed yang ada lalu menoleh ke arah dirinya yang datang dengan William dengan membawa nampan berisi camilan ditangannya.


William menaruh nampan di tangannya ke atas meja yang ada, ia lalu mengambil duduk bersebelahan dengan Rei. Elvina ikut menyusul di sampingnya.


"Apa maksud ucapanmu?" Rei menatap Elvina dan William meminta penjelasan.


"Maksudnya, walaupun kau kehilangan ingatanmu tapi kau masih memiliki kebiasaan yang sama. Tidak suka dengan keramaian dan lebih suka menyendiri seperti ini." William memperjelas maksud dari kakaknya.


"Memangnya dulu, aku juga orang yang tidak suka dengan keramaian?"


"Iya, begitulah." William meraih cangkir berisi minuman miliknya. Ia mengambil cangkir lainnya juga dan memberikannya pada Elvina dan Rei di kedua sisinya.


Rei meraih cangkir yang di sodorkan William lalu menyeruputnya pelan. Elvina dan William juga menikmati minuman mereka.



...*...


Malam semakin larut. Setelah kegagalannya menangkap Elvina, Melinda lantas memutuskan untuk memberikan jeda sejenak guna menyusun strategi agar bisa menangkap Elvina dan William serta menemukan keberadaan Rei yang menjadi target lainnya.


Aku tidak menyangka kalau dia ternyata lebih kuat dari yang aku bayangkan. Tidak aku sangka ternyata dia bisa menggunakan kekuatannya sehebat itu. Pantas saja Joe terus di buat kalah olehnya, batin Melinda.


Wanita itu mengalihkan pandangannya ke depan, menatap ke arah lautan luas yang kini membentang berkilo-kilo meter jauhnya dari pandangan Melinda.


"Aku akan pastikan kau berakhir dalam cengkramanku."


Melinda menghela napasnya pelan. Ia cukup lelah dengan semua hal yang terjadi hari ini dan dirinya membutuh istirahat.


Lebih baik malam ini aku mencari tempat untuk beristirahat dan menjernihkan pikiranku serta menyusun rencana baru agar aku bisa menangkap mereka dan membawanya pada profesor. Aku tidak boleh membuat profesor kecewa dengan menunjukku sebagai pengganti Joe. Aku harus bisa membuatnya benar-benar percaya dengan kemampuanku. Melinda melenggang pergi dari tempatnya.


...*...


Pukul dua dini hari. Rei terbangun setelah lagi-lagi mimpi buruk itu menghampiri tidurnya.


Sudah beberapa hari berlalu semenjak pertemuan keluarga waktu itu, dan Rei masih belum mengingat apapun tentang masa lalunya.


Rei menyeka keringat yang membasahi keningnya. Ia berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan, bersamaan dengan itu pula kepalanya lagi-lagi terasa sakit.


"Lagi-lagi mimpi itu… kenapa aku terus memimpikan hal yang sama? Aku benar-benar tidak mengerti," gumamnya pelan.


Setelah mulai merasa tenang, Rei turun dari ranjang tidurnya. Melenggang menuju kulkas mini di dalam kamarnya untuk mengambil air guna membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Rei menghampiri sofa bed miliknya, duduk terhenyak di sana dengan posisi bersandar. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamarnya yang kini di terangi cahaya lampu yang menyala. Tidak tahu sejak kapan, yang pasti dirinya tak pernah terbiasa tidur dalam kegelapan.


Rei terdiam, pikirannya melayang dibanjiri dengan berbagai pertanyaan mengenai mimpi yang terus menghampirinya selama satu tahun terakhir.


"Apakah mimpi itu memiliki sesuatu arti dalam hidupnya yang tidak bisa aku lupakan sampai-sampai aku terus memimpikannya?"


...***...