
...***...
Lusia membuka kedua matanya perlahan. Ia mengerjap, memperjelas penglihatannya.
"Argh… dimana aku?"
Lusia mengedarkan pandangan, ia terdiam sejenak berusaha mengingat-ingat tempat yang nampak familiar ini.
Atensinya beralih. Ia menoleh ke arah kiri dan kanannya yang tertutup oleh tirai, begitu juga dengan bagian bawah ranjang tempatnya terbaring yang juga sama-sama tertutup tirai.
"Aku di ruang UKS? Kenapa bisa?" lirihnya.
Pandangannya mendadak menangkap seorang pria yang duduk di tepi ranjangnya dengan posisi bersandar di ranjang dengan kepala yang bertengger pada kedua lipatan tangannya.
Lusia mengedipkan kedua matanya berulang kali, berusaha meyakinkan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebuah mimpi.
"R… Rei?" ucapnya kaget. Ia bangun spontan, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Rei.
Lusia mencolek pipinya dengan menggunakan telunjuk untuk memastikan lagi.
I… ini benar-benar nyata? Dia Rei? Kenapa dia di sini? Apa yang dia lakukan? Lusia tak dapat berkata-kata. Ia benar-benar tak menyangka kalau Rei akan menunggunya sadar di dalam ruang UKS seperti ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku bisa masuk UKS dan Rei menjagaku?" Lusia memonolog, ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya tak sadarkan diri. Namun raib, ia sama sekali tidak dapat mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. "Aku tidak bisa ingat apa-apa."
Gadis itu kini beralih memandang Rei yang terpejam dalam keadaan begitu tenang. Lusia terdiam memandangi Rei lekat. Lagi-lagi ia mengagumi ketampanannya.
Dalam keadaan setenang ini, ternyata kau terlihat lebih tampan. Tangan Lusia perlahan terulur mengusap wajah Rei dengan hati-hati. Ia awalnya tampak ragu karena takut Rei mendadak bangun begitu ia mengusapnya. Beruntung pria itu sama sekali tak merespon pergerakannya.
Lusia tersenyum. Jantungnya makin berpacu kala kulitnya bersentuhan dengan wajah Rei.
Wajahnya begitu halus dan lembut. Kulitnya begitu putih, rambutnya begitu pekat, dan bulu matanya begitu lentik, batin Lusia.
Bibirnya begitu seksi, pikirnya. Lusia tak dapat memikirkan kalimat lain untuk menggambarkan perasaan kagumnya pada sosok Rei yang kini terpejam di dekatnya.
"Aku hanya berharap kau tidak bangun terlalu cepat, agar aku bisa mengagumi ketampananmu lebih lama," bisiknya.
"Arghh!!" Rei mendadak berteriak membuat Lusia tersentak kaget.
Rei terbangun dengan wajah pucat dan keringat dingin yang membasahi keningnya, napasnya tersengal seperti seseorang yang baru menyelesaikan lari maraton.
Lusia terdiam dengan wajah terkejut. Ia benar-benar kaget saat Rei secara tiba-tiba berteriak seperti itu.
Rei memegangi kepalanya yang terasa sakit. Lusia yang melihat itu langsung panik.
"Rei… kau kenapa? Kau baik-baik saja?" tanya Lusia cemas begitu melihat Rei meringis kesakitan.
Lusia menatap Rei, kedua tangannya bergerak memegangi wajahnya. "Kau baik-baik saja?" tanya Lusia memastikan.
Rei terdiam, ia masih berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan. Mereka berdua beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat.
"Kau baik-baik saja? Kenapa kau berteriak? Apakah kau mimpi buruk? Astaga… kau begitu pucat. Kau juga berkeringat." Lusia mengusap kening Rei yang dibasahi keringat.
Rei tak bersuara. Entah kenapa jantungnya mendadak berdebar hebat saat ia beradu pandangan dengan Lusia di jarak yang sedekat ini.
Rei tersenyum tipis. "Kau sangat mencemaskanku?"
...***...