
...***...
Derek membuang permen yang tak lain telah dicampur dengan obat penenang ke dalam kloset lalu menyiramnya. Sudah berulang kali setiap kali Martin dan Miles datang secara bergantian, mereka terus mencekokinya dan Joe dengan obat yang sama. Sayangnya mereka sama sekali tidak sadar kalau Derek sadar akan hal itu.
Derek sadar itu obat penenang setelah dia melihat reaksi Joe setelah diberikan permen itu. Ketika itu Joe berteriak sambil menangis, meminta untuk pulang. Lalu Martin tiba-tiba memberikannya sebuah permen yang bentuknya seratus persen sama, dan begitu dia memakannya, anak itu pingsan. Derek juga sebenarnya pernah memakannya, dan sama-sama pingsan. Tapi sejak kejadian itu, dia sadar bahwa itu bukan permen biasa. Jadi setiap kali Martin datang lalu memberikan permen padanya dan Joe sebelum pulang, dia berusaha untuk membuangnya tanpa diketahui mereka.
Setelah menuntaskan masalah permen, dia lalu menghampiri Joe yang duduk dipojokkan. Seperti biasa, mereka akan mulai berpura-pura pingsan karena setelah ini, akan ada beberapa penjaga yang datang dan memastikan mereka. "Aku sudah membuang permennya, sudah saatnya kita melakukan rencananya," gumam Derek dengan suara pelan.
Joe hanya mengangguk kemudian berbaring bersamanya. Joe bahkan tidak mengerti kenapa adiknya bisa sepintar itu. Bahkan beberapa hari terakhir berkat idenya, mereka berhasil mengelabui semua orang.
Saat Joe bertanya darimana dia belajar semua itu, Derek hanya berkata bahwa semua itu dia pelajari dari film yang selama ini mereka tonton. Film tentang detektif. Dia mempelajari semua trik itu dari mengamati setiap detail filmnya. Joe benar-benar kagum karena adiknya ternyata memiliki sebuah bakat yang sungguh luar biasa, bahkan dia bisa menghafal setiap detail di film yang mereka tonton. Sementara selama ini dirinya menonton itu hanya karena menanggap cara sang detektif dalam memecahkan kasus selalu tampak menarik dan keren, dan dia bahkan sama sekali tidak bisa mengingat secara detail bagian-bagian kecil di dalam film tersebut.
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sampai kemudian keduanya mendengar sebuah suara dari arah pintu. Awalnya mereka pikir itu adalah suara dari para penjaga, namun begitu sadar suara yang mereka dengar berbeda, Derek dan Joe lantas mengintip untuk memastikan.
"Apa?" Tiana panik. Dia bergegas menghampiri Rivanno guna memastikan. Ternyata benar apa yang dia ucapkan, mereka benar-benar terkapar. "Astaga, apa yang sudah pria itu lakukan tadi ya? Apakah jangan-jangan dia berusaha membunuhnya? Jelas-jelas aku melihat tadi dia masih hidup."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Aku tidak tahu, kalau Dorothy sampai tahu akan hal ini… dia pasti akan sangat sedih," gumam Tiana dengan wajah yang kian panik. Mendengar nama ibu mereka disebut-sebut, Derek dan Joe lantas bangun dan menoleh ke arah Tiana dan Rivanno. Membuat kedua orang dewasa itu terkejut saat menyadari ternyata mereka baik-baik saja.
"Anda bilangan Dorothy? Apakah yang anda maksud adalah ibu kami?" ujar Joe.
"Astaga! Kalian membuatku terkejut. Kalian baik-baik saja?" tanya Tiana. Derek dan Joe menganggukkan kepalanya.
"Kami hanya berpura-pura."
...***...