Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 489 - Bukan di kapal



...***...


Elvina tak bisa mendengar suara apapun selain keheningan yang sejak tadi menyelimuti sekelilingnya.


"Sepertinya ini bukan di dalam kapal menuju pulau. Aku masih di daratan. Aku sama sekali tidak bisa mendengar sayup-sayup suara air atau angin yang berhembus di luar," bisik Elvina.


Ia beranjak dari tempatnya. Setelah berhasil bangun, ia berjalan secara perlahan sambil tangannya meraba-raba udara.


Elvina berusaha mencari sesuatu untuk dipegangnya. Berusaha mencari cara untuk bisa keluar dari kegelapan yang menyelimuti dirinya.


Brukk!


Elvina tersandung hingga tubuhnya terhuyung jatuh di lantai dengan posisi tengkurap.


Ia meringis menahan sakit saat tubuh ringkihnya harus kembali terluka akibat dia yang kurang berhati-hati.


"Arghh…" ringisnya kesakitan. Elvina memegangi lututnya yang baru saja menggores lantai dengan kasar.


Kenapa aku kurang berhati-hati, arghh… sakit sekali, batin Elvina sambil menahan sakit.


Ceklek!


Elvina tercekat saat suara pintu terbuka di dengarnya. Bersamaan dengan itu, ia melihat cahaya menyilaukan datang dari arah pintu.


Elvina menyipitkan kedua matanya, mengurangi cahaya yang masuk pada kedua matanya.


Gawat… jangan-jangan Joe mendengarku? Aku harus bersiap, pikir Elvina yang kemudian memusatkan seluruh kemampuannya pada kedua telapak tangannya.



...*...


Rei menundukkan kepalanya dengan wajah murung. Waktu telah berganti. Malah sudah tiba, dan dirinya masih terus dibuat dilema akan bagaimana caranya agar dia bisa menemukan keberadaan kedua sepupu dan kekasihnya.


"Jangan terlalu cemas, Rei. Sudah kami bilang, kami akan membantumu," gumam Lucy berusaha menenangkan Rei.


Saat ini, mereka bertiga sedang duduk bersama di meja makan. Menikmati makanan yang telah di buat oleh Lucy.


Sejak kemarin, ia terus disibukkan dengan mencari William dan Lusia. Lalu sekarang, ia juga harus mencari keberadaan Elvina yang ikut hilang di tangan Joe.


"Kami sudah berjanji akan membantumu." Aland meraih gelas minumnya.


"Bagaimana mungkin kalian bisa membantuku? Terlebih kalian adalah…" Rei terdiam. Ia baru menyadari sesuatu.


Keganjilan yang sejak ia bangun, baru saja di sadarinya.


Tunggu. Ada yang baru saja aku sadari. Lelaki yang bertarung denganku di tempat tadi, bukankah adalah lelaki yang berusaha menyerang Liana?


Benar, tuan, sahut Louis yang duduk di dekatnya.


Rei menoleh pada lelaki albino di sana.


Kalau lelaki itu berusaha menyerang Liana, bukankah itu artinya mereka memiliki kaitannya dengan hal ini? Lalu kalau tidak salah, saat Joe datang, dia juga mengatakan sesuatu pada lelaki itu. Apakah mereka juga saling kenal?


Sepertinya begitu, tuan. Tapi dari yang aku lihat saat pertarunganku dengannya tadi… lelaki itu mengatakan kalau dia datang untuk menangkap Liana. Tidak, bukan Liana. Tapi Lucy. Louis berusaha mengingat kejadian sebelumnya.


Rei terdiam seribu bahasa. Ia ingat beberapa potongan saat kejadian pertarungannya sesaat sebelum pingsan. Memang benar, lelaki itu menyebut Liana dengan sebutan Lucy.


"Rei?" Aland menepuk pundaknya pelan hingga membuat Rei spontan sadar dari lamunannya.


Rei menatap bergantian Lucy dan Aland.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Lucy dengan wajah bingung.


"Itu… aku baru saja mengingat sesuatu."


"Apa?"


"Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian. Tadi, saat di tempat kita bertemu… apa yang sedang kalian berdua lakukan di sana? Dan lagi, kenapa kalian bisa berhadapan dengannya?" tanyanya.


...***...