Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 715 - Tessa Illinois



...***...


Beberapa orang pria berpakaian serba hitam tiba-tiba saja keluar dari semacam mobil terbang, dan berdiri dihadapannya. Luna spontan berhenti ketika menyadari kehadiran mereka yang mendadak muncul dan mengejutkannya.


"Hai, gadis kecil. Bolehkah kami bertanya sesuatu padamu?" Salah satu pria bertanya sambil menghampirinya. Dengan rasa takut, Luna bergerak mundur dengan sangat perlahan.


"Jangan takut, kami hanya ingin menanyakan alamat saja padamu. Bisakah kau menunjukkan alamat ini pada kami? Kami baru di sini, dan kami takut tersesat." Pria itu menyalakan sebuah benda pipih transparan yang tak lain adalah alat komunikasi semacam handphone yang kemudian menampakkan sebuah layar hologram bertuliskan alamat.


Pria itu mengibaskan tangannya, memutar layar hologram itu hingga tulisannya bisa dibaca oleh Luna. Gadis itu terdiam. Dia masih ragu dan takut untuk mendekat. Namun karena pria itu sepertinya memang membutuhkan bantuan, Luna akhirnya memutuskan untuk membantu. Ia menatap layar hologram tersebut dan berusaha untuk membaca tulisan yang tertera di sana. Namun entah kenapa tulisannya terlalu kecil dan sulit untuknya membaca alamat yang tertulis. Luna mendekat secara perlahan. Tapi tepat ketika dia mendekat, sebuah peluru kecil melesat tanpa dia sadari dan langsung menusuk ke bahunya.


Jleb!


Benda itu langsung tertancap. Dia kaget saat merasakan sengatan pada bahunya. Matanya terbelalak. Tapi tak butuh waktu lama, penglihatannya langsung kabur dan dia terjatuh tidak sadarkan diri. Para pria itu bergegas mengangkat tubuhnya dan membawa Luna pergi dari sana.



...*...


Rivanno bergegas melangkah masuk ke dalam sana begitu dia tiba. Dengan pakaian berantakan, dia langsung masuk lewat pintu depan dan segera menghampiri meja administrasi, menanyakan dimana keberadaan Tiana. Begitu perawat itu menunjukkan keberadaannya, dia segera berlari menuju ruangan itu. Di sana, dia bertemu dengan perawat lain yang kemudian mengizinkannya untuk masuk dan menemani proses melahirkan istrinya.


Rivanno segera masuk ke dalam ruangan dan menemani Tiana. Menjaganya di tengah-tengah prosesnya melahirkan anak kedua mereka. Cukup lama mereka menghabiskan waktu di dalam ruang bersalin sampai akhirnya anak kedua mereka lahir. Sama seperti sebelumnya, mereka dikaruniai anak perempuan yang tampak begitu cantik dan menggemaskan. Setelah bayinya lahir, dokter seperti biasa membantu mereka membersihkan dan merawat bayi mereka hingga Tiana merasa lebih baik.


"Sama seperti Mommy nya." Rivanno ikut tersenyum memandang putri mereka.


"Kita harus memberikannya nama siapa?" tanya Tiana sambil beralih fokus pada Rivanno. Pria yang menjadi suaminya itu terdiam sesaat, dia tampak berpikir.


"Hm... Aku belum bisa memilih nama yang bagus untuknya. Tapi menurutmu nama apa yang sebaiknya kita berikan?"


"Kalau begitu, akan aku beri dia nama Tessa."


"Tessa?" Rivanno mengulang nama yang disebutkan istrinya.


"Iya. Tessa Illinois. Putri kedua dari Rivanno Illinois, dan adik dari Luna Illinois." Tiana tersenyum simpul. Rivanno hanya mengangguk-angguk, setelah dipikir-pikir nama yang diberikan oleh Tiana terdengar bagus dan cocok untuk putri mereka.


"Nama yang indah. Kalau begitu, kita namai dia Tessa." Rivanno beralih. Tangannya mengusap lembut puncak kepala putrinya yang kini terlelap karena lelah setelah sejak tadi menangis tidak henti.


"Oh ya, apakah kau sudah menghubungi sekolahnya Luna?"


"Astaga, aku lupa untuk mengabari mereka kalau kita tidak ada."


...***...