
...***...
"Mungkin kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan Pricilla dan belajar lebih banyak hal tentang dunia bedah. Aku sungguh beruntung bisa bertemunya, karena dia sangat ahli dalam dunia bedah," katanya memuji Pricilla.
"Jangan terlalu berlebihan, aku hanya mengajarkan apa yang aku bisa." Pricilla jadi malu sendiri.
"Dia memang ahlinya. Harus kuakui itu," ucap Derek.
"Eh?" Pricilla menatap Derek. Wajahnya merona mendengar ucapan Derek tentangnya barusan.
"Omong-omong aku harus pergi sekarang, aku masih memiliki janji dengan seseorang. Lain kali, mari mengobrol lebih banyak," pamit Lida.
"Ya, sampai jumpa." Derek menjawab.
"Akan kuusahakan." Lida menepuk pundak Pricilla sebelum akhirnya berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Sampai jumpa lagi!" teriaknya sambil melambaikan tangan.
"Sepertinya dia orang yang baik," gumam Derek.
"Ya, memang." Pricilla tersenyum simpul sambil terus menatap ke arah dimana Lida menghilang.
"Pricilla! Derek!" Suara melengking langsung menyita perhatian mereka. Keduanya menoleh serentak ke arah datangnya suara.
Di seberang jalan, mereka mendapati Annika yang melambaikan tangan ke arahnya sambil berlari.
"Sejak tadi aku mencarimu! Aku kira kau hilang," ujar Annika.
"Maaf membuatmu kebingungan, aku tadi tidak sengaja melihat Pricilla," tutur Derek.
"Sudahlah, tidak apa-apa."
"Kau sudah menemukan yang kau butuhkan?"
"Ya. Ayo pulang! Aku harus memasak untuk makan malam."
Annika, Derek, dan Pricilla beranjak dari sana. Sambil berjalan, mereka terus mengobrol.
Dengan adanya Annika, perjalan mereka jadi tidak terasa membosankan. Karena wanita itu cukup banyak bicara.
"Aku akan memasak makanan kesukaan profesor," kata Annika dengan penuh semangat.
"Aku akan membantumu."
"Boleh saja."
"Kau juga harus membantu."
"Aku harus fokus dengan pekerjaanku," jawab Derek.
Sementara mereka terus berjalan, tanpa sadar, seorang lelaki sejak tadi memperhatikan mereka.
Pria itu berdiri di balik semak-semak yang terletak di halaman samping rumah sakit.
Tangannya bergerak menekan tombol pada handsfree yang terpasang pada telinganya.
"Aku berhasil menemukan target kita!"
"Mulai proses operasi penangkapan," ujar seseorang di seberang sana.
"Di mengerti."
...*...
Lucy terus melangkah menuju cahaya yang dilihatnya. Cahayanya amat menyilaukan kedua mata sampai-sampai membuat dia harus menyipitkan mata dan menggunakan sebelah tangan untuk menutupi pandangan.
Perlahan Lucy mulai bisa beradaptasi dengan cahaya yang dilihatnya dan tiba di tempat lain yang tidak seterang sebelumnya.
"Woah…" Ia berdecak kagum begitu melihat pemandangan indah di sekelilingnya.
"Ini… tempat apa?" Lucy mengerjap beberapa kali. Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan indah yang dilihatnya.
"Tempat ini sungguh indah," gumamnya.
"Liana!" teriak Rei yang dalam sekejap menyita perhatiannya.
Lucy menoleh. Rei berjalan menghampirinya dengan ditemani oleh Aland dan seorang pria albino yang entah siapa disampingnya.
"Akhirnya kau tiba juga," ujar Rei sambil tersenyum ke arahnya.
"Rei, Al, kalian juga di sini?"
"Ya, tentu saja."
"Dimana ini?"
"Dreaworld. Dunia mimpi yang aku ciptakan."
"Dreaworld?" Lucy mengerutkan keningnya.
"Rei!" teriak Elvina dan William sambil berlari menuju arah mereka.
Rei, Lucy, Aland, dan Louis, menoleh secara bersamaan ke arah datangnya suara.
"Elvina, William!" Rei menghampiri keduanya dan saling berpelukan.
"Akhirnya aku melihat kalian lagi," gumam Rei.
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi." Elvina dan William nyaris menangis.
Lucy dan Aland bingung.
...***...