
...***...
"Maaf, Bu. Anda mau kemana?" teriak wanita yang tadi bicara dengannya. Lucy tak menghiraukan teriakannya dan terus berjalan menuju arah pintu.
Wanita itu mulai panik dan berteriak memanggil keamanan untuk mencegah Lucy untuk masuk ke lantai dimana ruangan wakil direkturnya berada.
Lucy menghentikan langkahnya saat sekelompok pria menghadang jalannya.
"Anda tidak boleh naik, Bu," kata wanita itu lagi dalam bahasa Inggris.
"Menyingkir dari hadapanku!" titah Lucy pada mereka semua.
Orang-orang itu bergeming. Mereka enggan pergi dari tempatnya.
"Jangan membuatku kesal," kata Lucy.
"Apakah anda tidak mengerti? Anda tidak di perbolehkan naik!" Seorang pria berujar dengan bahasa Inggris, menarik lengan Lucy untuk keluar dari sana.
Lucy mendelik ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Lepaskan tanganku!" kata Lucy.
"Lebih baik anda keluar, dan jangan membuat keributan di sini." Pria itu balas menatapnya. Ia mengencangkan cengkramannya pada Lucy.
Lucy meraih tangan pria itu, balas mencengkramnya dan melakukan pitingan hingga membuat pria itu tersungkur di lantai dengan suara pekikan yang keras.
"Arghh!" teriaknya kesakitan.
"Aku sudah bilang padamu jangan sentuh aku!" ujar Lucy.
"Apa yang kalian lakukan, jangan diam saja dan bantu aku!" Pria itu meminta bantuan pada pria lain yang berkumpul di sana.
Mereka seketika mengerubungi Lucy dan berusaha membantu pria yang berada dalam cengkramannya.
Satu pria menarik bahu Lucy. Dengan cepat wanita itu bergerak mencengkram tangannya, melayangkan satu tendangan ke arah perutnya hingga ia terjatuh.
Lucy tak kalah, belum sempat pria itu melayangkan tinju. Tendangan Lucy lebih dulu mendarat pada wajahnya.
Brukk!
Hanya dalam beberapa menit, beberapa orang sudah tumbang dalam hajarannya.
Mereka semua bergerak bersamaan dan menyerang Lucy. Setiap serangan, tinjuan, dan tendangan mereka layangkan pada Lucy. Namun sialnya dengan sangat mudah, wanita berambut pirang itu menghadapi setiap serangannya.
Brukk!
Beberapa pria lain tersungkur jatuh di lantai dengan posisi wajah yang babak belur dan tubuh berbalut jas serta kemeja mereka yang semula rapi, kini berantakan bukan main.
Semua orang di buat melongok dengan kemampuan beladiri Lucy yang bisa dengan mudah mengalahkan orang-orang bertubuh lebih besar darinya.
Lucy bangkit setelah menghajar satu pria terakhir. Ia menepuk-nepuk tangannya, membersihkan sedikit debu pada kedua telapak tangan.
"Aku kira kalian semua kuat, tapi ternyata kalian begitu lemah," ejeknya.
Lucy melangkah dengan anggunnya melintas melewati mereka yang terkapar di sana. Ia menghampiri lift dan masuk ke dalam sana yang kebetulan kosong.
Orang-orang terpaku. Kedua mata mereka terbelalak sempurna dengan mulut menganga terbuka lebar.
"Arghh, dia begitu kuat." Satu pria bangkit dari jatuhnya. Ia segera menghubungi tim keamanan di setiap lantai dan meminta mereka untuk mencegah Lucy untuk tiba di ruang wakil direktur mereka.
Orang-orang yang baru saja dihajarnya itu segera bangkit dan berbondong-bondong naik menuju lantai yang di tuju Lucy. Mereka harus menggagalkan Lucy sebelum dia benar-benar tiba di lantai tersebut.
Ting!
Lift terbuka di lantai yang Lucy tuju, begitu pintu terbuka. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah segerombol orang pria bertubuh besar yang berdiri dengan tatapan tak bersahabat, menghadang jalan masuknya.
Lucy menghela napas pelan sambil memijat pelipisnya.
"Okay…"
...***...